

INDIRA DEWI KIRANA
SELAMAT JALAN PAPA
“ Puanas. ” Teriakku .Jebruak !! “Apa sih dek?” Kak Dimas bertanya. “Ini lho mas AC ku mati, aku mau tidur tapi gak bisa.Gerah buanget.”Jawabku. Kak Dimas hanya geleng kepala melihat kelakuan adiknya yang masih kekenak – kanakan. “ Ya udah dek, kamu tidur di kamar kakak aja, ACnya hidup tuh.” Suruh Kak Dimas.Biasa aku mau perez dikit ah ma kakakku,” Makasih ya Kak, Kakak memang kakakku yang paling guanteng dan paling baek .”
Inilah sebuah keluarga kecil yang begitu harmonis, Terdiri dari seorang anak perempuan bernama Kiran, ya itulah aku. Aku memiliki Kakak laki – laki yang begitu menyayangiku dia bernama Dimas. Juga Mama dan Papaku yang memberiku limpahan kasih sayang.
Akhirnya aku pun tidur di Kamar Kak Dimas.Tak disangka di kamar itu, aku melihat sebuah fotoku dan Kak Dimas saat kami berlibur bersama di
Tok..tok..tok….”Kiran bangun sayang udah siang ni, kamu gak sekolah sayang,” Tanya Mama. Aku menjawab sambil mengangkat selimutku kembali,” Ntar Ma, masih ngantuk ni.” Sampai akhirnya aku terbangun dan langsung loncat dari tempat tidurku karena jam yang sudah menunjukkan pukul 6. Aku pun tergesa – gesa mandi dan mempersiapkan keperluanku untuk berangkat sekolah. Lalu beranjak turun untuk segera sarapan.
“ Ayo cepet,udah jam berapa ni? Gak usah sarapan nanti kita terlambat sekolah.” Kata Kak Dimas. Karena ultimatum Kak Dimas itu,aku hanya sempat nyeruput susu yang sudah tersedia di meja, dan berkata,” Papa, Mama Kiran sama Kak Dimas berangkat dulu. Assalamualaikum.” Aku dan kakakku akhirnya berangkat dengan tergesa – gesa. Sesampainya di sekolahku dan turun dari motor kakakku. Ku cium tangan Kak Dimas dan berkata,” Hati – hati ya Kak, jangan lupa aku. Okey?” “Iya adikku adikku yang super bawel.” Jawab Kak Dimas sambil menurunkan kaca helmnya dan akhirnya tancap gas. Maklum jarak sekolahku dan sekolah Kak Dimas cukup jauh. Aku bersekolah di SMP Harapan Jaya dan Kak Dimas bersekolah di SMA Cinta Damai.
Bel pulang berdenting, aku pun berjalan menuju Gerbang sambil menunggu Kak Dimas. Tapi tidak seperti biasanya Kak Dimas udah di depan gerbang sambil nenteng helm. Aku yang merasa aneh dengan perilaku Kak Dimas pun bertanya,”
Ku lihat bendera kuning melambai di depan rumahku. Seakan menyuruhku untuk segera masuk dan melihat apa yang sebenarnya terjadi. Brukk!!! Tubuhku terkulai lemas menghantam tanah saat ku lihat wajah ayahku yang pucat pasi, tubuhnya begitu dingin tanda tiada lagi denyut nadi yang manghangatkannya. Sungguh sulit ku katakan, tapi kini Papaku telah meninggalkan kami karena penyakit jantung yang sudah lama dideritanya.” Papa bangun, lihat Kiran. Papa sayang sama Kiran
Saat yang paling berat kami lalui adalah melihat wajah Papa untuk yang terakhir kalinya. Karena begitu sulit melepaskan kepergian Papa, aku pun tak kuasa lagi menopang tubuhku. Hingga semua terlihat gelap dan tubuhku terkapar tak sadarkan diri. Namun aku masih sempat mengatakan sesuatu,” Selamat jalan Papa.”
********************************************************************
KADO ISTIMEWA
“Ini buat Papa.” Kataku sambil mengambilkan nasi goreng untuk sarapan pagi ini. “ Kiran,apa sih yang kamu lakukan? Kamu harus tahu dan terima kenyataan ini kalau Papa sudah nggak sama kita lagi.” Bentak Kak Dimas padaku. Aku yang kaget mendengar bentakan Kak Dimas langsung berlari masuk ke dalam kamar lalu mengunci diri di dalam kamar. “Apa salah kalau aku masih belum bisa melupakan Papa? Begitu banyak kenangan indah yang telah kita lalui bersama, yang pasti tak
Hari ini tanggal 24 April besok adalah hari ulang tahunku. Jujur sebenarnya aku lupa kalau besok adalah hari ulang tahunku. Karena menurutku hari ini sama dengan hari – hari biasanya. Anehnya seharian ini aku sama sekali tidak melihat Kak Dimas. Aku gak tahu dia pergi kemana. Ya udahlah namanya juga anak muda dan aku gak mau tahu itu
Hari ini tepat 25 April, dan aku sengaja meng ‘silent’

Tiup lilinnya, lalu make a wish
Setelah itu mundur
Byuuurrr…..Ujan? Gak mungkin
“Udah – udah, Kiran sama Dimas mandi dulu
*********************************************************************
HARI PENENTUAN
Hari ini hari pertama UNAS sebuah penentuan hidup, yang kurasakan sangat tidak adil. Karena banyak orang yang tak pantas bisa mendapatkan hasil NUN yang begitu baik karena kecurangan yang mereka lakukan, tetapi juga banyak orang yang sangat pantas mendapatkan hasil yang sangat setara dengan kerja kerasnya. Oleh karena itu aku hanya bisa berdo’a dan berusaha untuk tidak mengecewakan orang – orang yang menyayangiku. Tapi kini aku merasa bisa bernafas lega karena ini hari terakhir UNAS. Akhirnya tiba juga hari perpisahan sekaligus pembacaan hasil jerih payah kami selama tiga tahun ini. Aku berangkat ditemani oleh Mama dan Kak Dimas. dibacakanlah hasil UNAS yang meraih posisi
“ Tuh
Makan malam pun tiba, tidak seperti biasanya hari ini kami makan di restoran favorit keluarga kami untuk merayakan keberhasilanku.” Kiran, kamu sudah pikirkan mau meneruskan studymu dimana? Mama ingin kamu memikirkan ini segera, agar kamu bisa focus menjalani apa yang sudah menjadi kepiutusan kamu. Tanya Mama.” Udah Ma, Kiran biar sekolah satu sekolah aja sama aku, itung – itung aku biar bisa ngawasin dia Ma.” Jawab Kak Dimas.” Aku udah mikirin tentang ini kok Ma. Aku mau sekolah di SMA Candra Nusantara. Bukankah kualitasnya juga tidak kalah dengan SMA Cinta Damai. Enggak, pokoknya aku gak mau satu sekolah sama Kak Dimas, apalagi diawasin emangnya aku ini anak playgroup apa? Aku
********************************************************************
SEKOLAH BARU, HARIKU BARU
SMA Candra Nusantara, sebuah SMA swasta yang ternama di Kotaku. Sekarang aku tinggal di kelas X 1. Disini aku bertemu teman baru, guru baru dan pastinya lingkungan baru.Aku sama sekali tidak mengalami suatu kesulitan yang berarti dalam hal sosialisasi dan beradaptasi. Hingga aku berkenalan dengan teman sekelasku, namanya Laras. Dia juga cantik dan pintar. Karena hobi kami yang kebetulan sama, akhirnya kami menjalin persahabatan hingga begitu dekat.Sampai suatu hari aku ingin mengajak Laras ke rumahku lalu aku berkata,” Laras maen ke rumahku yuk? Ntar aku kenalin sama Kak Dimas dan Mamaku. Mau
Ting…tung…ting…tung… Bel rumahku berbunyi.” Ran, buka pintunya gih, ada orang tuh.” Teriak Kak Dimas.” Kakak aja yang bukain, aku masih sibuk di kamar.”Jawabku. Dengan separuh hati Kak Dimas membukakan pintu.” Sore Kak, Kirannya ada?” Tanya suara di balik pintu tadi dengan penuh kelembutan.”
Aku kembali dengan membawa tiga gelas cappuccino di nampan. Karena kami memang sama – sama suka dengan cappuccino hangat, sehangat suasana sore ini. Kemudian Laras mengambil sebuah foto keluarga kami, lalu bertanya,” Ran laki – laki ini siapa?” Dengan terbata – bata aku menjawab,” Itu papaku, dia meninggal 1 bulan yang lalu karena penyakit jantung yang memang sudah lama dideritanya.” Laras pun berkata,” Maafin aku Ran, aku bener – bener gak tau.” Aku menjawab pertanyaan Laras dengan penuh ketegaran, Gak apa – apa toh ini memang salahku tidak menceritakan tentang ini padamu.”
“ Assalamu’alaikum. Wah asyik banget ni, siapa ini, Mama kok gak dikenalin.” Kata Mama yang baru pulang kerja.” Ini Laras Ma, teman sekelas Kiran.” Jawabku. “ Kenalkan saya Laras tante.” Laras memperkenalkan diri sambil mencium hangat tangan mamaku.” Ya sudah Laras, tante masuk ke dalam dulu, tante capek seharian kerja.” Kata Mamaku. Laras hanya mengangguk karena dia mengerti bagaiman capeknya Mamaku setelah seharian kerja. Karena orang tuanya juga termasuk jajaran direksi sebuah perusahaan tekstil ternama. Setelah kita ngobrol panjang kali lebar, akhirnya Laras memutuskan untuk pulang,” Kiran, Kak Dimas, Laras pulang dulu ya? Sudah malam salam aja buat tante.” Kak Dimas dengan semangat menjawab,” Hati – hati ,sudah malam kalo pulang nyupir sendiri.””Ya pantas kalau kita khawatir sama Laras,dia cewek bawa mobil sendiri pula. Cuma penjahat goblok yang gak macem – macem sama dia.Huuss aku kok jadi ngelantur gini ci.Aku berdo’a aja biar Laras smpai rumah dengan selamat.” Hati – hati ya Ras, kapan – kapan maen kesini lagi, sampai ketemu besok ya.” Laras hanya mengangguk di dalam Honda jazz merahnya, dan akhirnya berlalu.” Kak Laras cantik ya?” Tanyaku pada Kak Dimas.” Iya, dan yang paling penting dia itu sopan gak kaya’ kamu.” Jawab Kak Dimas enteng. Kakak suka ama Laras ya? Ntar aku bilangin deh.” Kataku sambil menyikut perut Kak Dimas dan segera berlari kalau tidak, Kak Dimas akan membalasku. Entah kenapa, aku merasa Laras adalah wanita yang tepat untuk Kak Dimas. Tapi biarlah waktu yang menjawabnya.
Di sekolah hari ini aku melihat wajah Laras begitu berbinar – binar tak seperti Laras yang biasanya kulihat. Aku yang merasa sedikit aneh dengan tingkah Laras pun akhirnya bertanya perihal sebab – musababnya dia terlihat begitu ceria hari ini,” Laras,kamu kelihatan happy banget deh hari ini? Boleh bagi cerita ni?” Tapi Laras hanya tersenyum, melamun, sambil memeluk tangannya.” Kamu senang ya, ketemu sama Kak Dimas? Aku rasa kamu memang gadis yang cocok untuk Kak Dimas. Kamu tu baek dan Kak Dimas juga baek pokoknya klop banget de.” Kali ini wajahnya langsung memerah dan lagi – lagi dia hanya menjawab dengan senyuman khas orang kasmaran.
Tiba – tiba aku punya ide gila untuk mengirimkan nomor HP Laras ke Kak Dimas. Siapa tahu mereka memang jodoh.” Message Sent” dan nomor Laras pun telah terkirim ke HP Kak Dimas. Tinggal tunggu reaksinya deh. Di kelas Laras begitu sibuk membalas SMS dari seseorang tidak seperti biasanya dia lebih memperhatikan HPnya daripada pelajaran,sesekali dia tersenyum lalu tertawa. Aku harap itu SMS dari Kak Dimas. Untuk memastikan hal itu , nanti sepulang sekolah aku akan pinjam HP Kak Dimas untuk melihat INBOXnya. Karena aku tahu kebiasaan Kak Dimas yaitu tidak menghapus INBOX sebelum penuh.” Tuh Kak Dimas dah jemput, ikut anter aku ke gerbang yuk?” Ajakku. Laras tak menjawabnya tetapi ia hanya mengikuti langkahku karena tangannya yang ku tarik. Aku naik ke motor dan Kak Dimas berkata,” Laras kita pulang dulu ya? Kamu hati – hati
Sesampainya di rumah aku meminjam HP Kak Dimas,”Kak, Kiran pinjam HPnya ya?” Kak Dimas menjawab,” Buat apa? Kakak lagi sibuk ?”” Pinjem buat Bluetooth lagi dari HP Kakak, OST Anime yang kemaren kakak baru download, boleh
Ku terima HP Kak Dimas dan langsung kubawa ke dalam ke kamar lalu kukunci rapat – rapat pintu kamarku. Laras… Laras… Laras… Sepanjang INBOX Kak Dimas hanya berisi Pesan Pendek dari Laras. Mungkin benar Kak Dimas menyimpan perasaan suka pada Laras. Tapi biarkan saja dulu, Kak Dimas masih butuh waktu berpikir untuk meyakinkan perasaannya pada Laras. Apakah benar dia benar benar menyayangi Laras. Lagu Tuhan Tolongnya Derby Romero pun terdengar sebagai Message Tone HPnya Kak Dimas. Aku
*********************************************************************
KAKAKKU CINTA SAHABATKU
“ Dek, ada yang mau aku tanyain nih, boleh gak?” Tanya Kak Dimas padaku.”Masa’ kakaknya sendiri Tanya sesuatu gak dijawab. Mank mau tanya apa sih Kak? Tentang Laras ya, jujurlah padaku..jujurlah padaku..kau menyimpan rasa…kau menyimpan rasa..cinta..” Tanyaku genit ala Widi Vierra band pada Kak Dimas.” Gimana ya? Sebenarnya…se…” Jawab Kak Dimas yang terhenti karena celetukanku,” Kak, aku ini
Semalaman Kak Dimas memikirkan perkataanku tadi malam. Kak Dimas pun memutuskan untuk mengajak Laras untuk Hangout hari ini,” Ras, mau gak hangout ma aku, temenin aku cari buku buat landasan teori KIRku, gimana? Kalau mau aku jemput jam 9.” Pesan pendek ini terkirim ke HP Laras.
“Pagi tante, Larasnya ada?” Tanya Kak Dimas pada Mamanya Laras.” Oya silakan masuk, kamu temannya Laras ya? Tapi tante kok belum pernah lihat?” Tanya Mamanya Laras.” Saya Dimas tante, kakak kelas Laras. Mau mengajak Laras untuk mencari buku buat landasan teori Karya Ilmiah saya.” Jawab Kak Dimas.” O… Jadi kamu termasuk anak yang cukup pintar ya? Kalau orang tuanya?” Tanya Mamanya Laras lagi.” Ah tidak juga Tante, Papa saya adalah direktur perusahan yang dikelola sendiri oleh keluarga yang sekarang diambil alih oleh Mama saya, Karena Papa saya meninggal sebulan yang lalu.” Terang Kak Dimas atas semua Tanya Mamanya Laras.” Ayo Kak, udah siang nih. Mama, Laras ma Kak Dimas berangkat ya?” Laras meminta ijin pada Mamanya sambil mencium tangan Mamanya.” Iya, nak Dimas Tante titip Laras ya?” Pinta Mamanya Laras pada Kak Dimas.” Baik Tante, terimakasih sudah memberi ijin. Assalamu’alaikum.” Jawab Kak Dimas sambil meminta ijin untuk pergi dengan Laras.
Kak Dimas dan Laras udah lama banget muter – muter di toko buku. Semua buku, novel, dan komik yang mereka butuhkan juga sudah mereka dapatkan. Dan semua itu membuat mereka lapar. Akhirnya mereka memutuskan untuk makan siang dulu.” Mbak, dua nasi goreng seafood dan dua cappuccino hangat ya?” Pesan Kak Dimas pada seorang waitress resto.” Lho Kak Dimas kok tahu kalau aku suka banget sama nasi goreng seafood an cappuccino hangat?” Tanya Laras heran.” O ya? Kamu juga suka? Aku beneran gak tahu kalau kamu juga suka karena ini itu makanan favoritku sama Kiran.” Jawab Kak Dimas enteng. J- Rocks udah nyanyi Hanya Aku, tanda ada satu panggilan masuk di HP Kak Dimas.” Bentar ya? Aku angkat dulu?” Ijin Kak Dimas, setelah itu berdiri sejenak dari tempat duduknya dan kembali lagi ke tempat duduknya.” Itu lagu J –Rocks ya Kak? Kakak juga suka J- Rocks? Tapi kalau lagu itu aku baru denger deh. Gimana inti ceritanya Kak?” Tanya Laras penasaran.” Aku suka banget sama J – Rocks, lagu ini bercerita tentang keyakinan seorang cowok yang falling in love sama cewek, kalau hanyalah dia yang selalu untuk sang cewek. Seperti yang saat ini kurasakan.” Terang Kak Dimas pada Laras.” Bahagia banget ya jadi cewek itu?” Bisik Laras.” Apa Ras, kamu barusan bilang apa, maaf aku gak denger.” Tanya Kak Dimas.” Gak kok Kak.” Jawab Laras gugup.
Setelah makan, Kak Dimas mengajak Laras ke tempat – tempat asyik favoritnya. Aneh atau kebetulan karena semua yang disukai Kak Dimas pasti juga disukai oleh Laras. Akhirnya Kak Dimas mengantarkan Laras pulang ke rumahnya. Dan Kak Dimas pulang juga,aku yang begitu senang melihat binar wajah Kak Dimas pun langsung menyambutnya,” Darimana aja Kak? Berangkat pagi pulang sore. Aku kira mau gak pulang dan udah lupa ama adiknya?” Sambil menyodorkan dua batang coklat Kak Dimas menjawab,” Ini adikku, coklatnya. Udah ah,entar aja tanyanya, Kakak udah capek banget. Intinya hari ini Kakak seneng banget.” Tanpa penjelasan yang berarti Kak Dimas langsung naik ke kamarnya.
********************************************************************
PERMINTAAN TERAKHIR
Sepertinya Kak Dimas sudah memantapkan hati untuk memilih Laras. Buktinya sudah seminggu ini Kak Dimas mempersiapkan waktu, tempat, dan suasana yang tepat untuk menyatakan cintanya pada Laras. Hingga dipilihlah sebuah Cafe tenda kecil di
Sore ini Kak Dimas berdandan begitu rapi dan sudah menyiapkan semua. Kak Dimas berkata,” Adikku do’ain Aku ya? Ma, Dimas berangkat dulu ya?”” Iya, hati – hati.” Jawabku dan Mama serempak. Sekarang Kak Dimas ingin mampir dulu ke toko bucket langganan kami sebagai hadiah pelumer hati untuk Laras.Lalu melanjutkan perjalanannya ke
Tak seberapa lama berselang, Telpon rumah berdering.” Biar aku saja yang mengangkatnya Ma.” Setelah mendengar berita di telpon, rasanya aku sudah tak kuat lagi untuk memegang gagang telpon hingga terjatuh ke tanah.” Kak Dimas kecelakaan, sekarang dia ada di Rumah Sakit.” Tanpa pikir panjang aku dan Mama segera menuju Rumah Sakit untuk melihat keadaan Kak Dimas. Dan HPku bergetar ada panggilan dari Laras, lalu ku katakana bahwa Kak Dimas sekarang ada di rumah sakit karena kecelakaan saat perjalanan. Dan Laras juga akan segera menyusul kesini.” Apakah ada keluarga yang bernama Kiran? Pasien terus memanggil namanya.” Tanya seorang suster yang baru saja keluar dari IGD.” Saya Sus, Apa saya boleh masuk?”. Jawabku.” Tentu.” Jawab suster itu. Di dalam aku tak sanggup lagi membendung air mata saat kulihat Kakakku yang kucintai tergeletak bersimbah darah.” Kiran, Kakak ingin kamu menyampaikan ini.” Pinta Kakak sambil terbata – bata. ”Sudah Kak, Kakak diam saja. Kakak pasti baik – baik saja.” Jawabku.” Ini mungkin permintaan Kakak yang terakhir, tolong kamu katakan pada Laras, bahwa Kakak benar – benar mencintainya.” Pinta Kak Dimas padaku. Pandanganku terlepas dari Kak Dimas saat kulihat Laras menerobos pintu IGD. Namun terlambat, dalam sekedip mata Kak Dimas sudah dipanggil menghadap sang kuasa saat orang yang sangat dicintainya baru saja datang.” Kak Dimas, bangun Kak. Sekarang Laras ada disini Kakak bisa katakan isi hati Kakak kalau Kakak cinta pada Laras. Ayo Kak, bangun katakan pada Laras. Lalu Laras memelukku, menghapus peluhku, dan berkata,” Udah Ran, kamu harus tahu gak hanya kamu yang kehilangan Kak Dimas. Tapi aku juga merasakan kehilangan yang begitu besar karena Kak Dimas dalah cinta pertamaku.” Akhirnya aku, Mama, dan Laras pun hanya bisa meratapi kepergian Kak Dimas di Ruang IGD.
Ketika aku, Mama, dan Laras sampai di rumahku, begitu banyak orang berpakaian hitam tanda atmosfer kedukaann yang begitu tebal menyelimuti hati kami. Aku tak tahu saat aku sampai di rumah, air mataku sudah tak menetes sama sekali. Mungkin karena dalam hatiku tertanam keyakinan dan dendam yang besar, aku yakin Kak Dimas meninggal bukan karena kecelakaan tunggal. Kak Dimas bukanlah orang yang ceroboh, tapi siapa yang tega melakukan ini pada Kak Dimas? Karena Kak Dimas adalah orang yang begitu baik. Hingga acara pemakaman selesai aku tetap tabah menghadapi kehilangan orang yang kusayangi untuk ke dua kalinya. Dengan sejuta Tanya yang terus saja terbayang – baying di benakku.
Hanya 3 hari aku tidak bersekolah, dan hari ini aku memulai hariku di sekolah. Laras yang heran padaku pun bertanya,” Kiran, kamu kok udah sekolah? Aku yakin sekolah pasti ngerti kok kalau kamu masih buutuh waktu untuk nenangin diri.” Namunku hanya menjawabnya dengan tenang,” Udara rumah yang kurang berwarna tanpa kehadiran Papa dan Kak Dimas membuatku bosan. Jadi aku lebih memilih untuk bersekolah sambil melupakan semua duka di hatiku.”” Ya udah, gak apa – apa, intinya kamu udah tenang aja kok.” Tanya Laras sekali lagi untuk meyakinkanku. A nod sudah cukup bagiku uktuk menjawab pertanyaan Laras. Dan kita mulai hari ini dengan indah.” Hei, ada yang aneh ya sama Kiran. Sejak itu dia sering murung, marah tak jelas, lalu sulit sekali mengontrol emosinya ya?” Bisik teman sekelasnya yang sedang ngerumpi di bilik kantin. Namun aku yang mendengar pembicaraan mereka pun langsung mendekati mereka dan menyemprot BIGOS sekolah itu,” Hei apa yang kalian bicarain, terserah donk , hidup – hidup aku ngapain kalian yang repot? Aku mau marah kek, aku mau jungkir balik kek, yang penting aku tetap bisa mempertahankan prestasiku. Daripada kalian Cuma bisa membicarakan orang lain tanpa look at the mirror!” Laras pun segera menenangkanku dan menarikku dari kerumunan itu sebelum ada pertengkaran hebat yang terjadi.” Ras, sadarin tuh temenmu dia tetep butuh orang laen. Dasar anak udah buta.” Teriak salah satu orang dari kerumunan itu.
Dua bulan berlalu, aku rasa hidupku terus berjalan tanpa dapat kunikmati. Aku rasa aku bisa hidup sendiri, hanya ada Laras di sampingku. Akulah Kiran yang baru, pemurung, pemarah, namun tetap berprestasi. Mungkin hanya itu yang bisa dibangggakan dari Kiran yang sekarang.Sesosok pria berjalan di depan mataku, namun seolah kini aku sudah mati rasa dengan para pria. Lalu mengulurkan tangannya padaku,” Aku Ruli, aku anak baru yang duduk di bangku kelas XI IPA 2, mohon bantuannya ya?” Laras pun dengan baik memperkenalkan diri. Namun saat tiba giliranku dengan enteng aku meninggalkannya tanpa rasa bersalah. Kemudian Laras dengan segera mengejarku dan berbicara padaku,” Kamu bukan Kiran yang aku kenal. Kiran yang cerdas, ceria, suka bantu orang laen. Mungkin aku sekarang percaya kata anak – anak itu, kalau kamu itu sudah buta karena kehilangan kakakmu. Dan satu hal yang harus kamu tahu Kakakmu pasti marah besar melihatmu seperti ini. Persetan, aku mau lihat kamu berubah. Jangan temui aku sebelum kamu bisa koreksi diri sendiri.” Lalu Laras beranjak meninggalkanku dan segera berlalu.
Sungguh semua hal telah hilang dari genggamanku, namun masihkah Tuhan membiarkan Laras juga meninggalkanku? Sejenak kupertanyakan keadilan Tuhan padaku?
KAKAK BARU UNTUKKKU
Kakak kelas yang baru itu menghampiri Laras dan mulai mengajaknya bicara,” Hai Laras
“Kiran ya?” Tanya Ruli padaku.“Tahu darimana kamu? Pasti dari Laras, dasar sahabat yang gak setia!” Semprotku. “Maaf ya, jangan salahkan Laras sebenarnya aku tahu dari teman – temanku yang sering membicarakan bintang yang tetap bersinar , walau sinarnya tak lagi menyilaukan, Kiran?” Aku lalu terdiam dan terpaku mendengar perkataan kakak kelasku itu. “Mau ke kantin? Sebuah kehormatan bisa minum dengan bintang sepertimu?” Ajak Ruli.” Jangan lupa satu lagi, yang sinarnya tak lagi menyilaukan.”
“Cappucinonya dua Bu!” Teriak Ruli pada penjaga kantin. Sejenak aku berpikir, darimana dia tahu kalau aku menyukai cappuccino? Apakah Laras yang memberitahukannya? Karena begitu banyak pertanyaan di benakku, akhirnya ku tanyakan saja pada Kak Ruli,” Kak, kenapa pesennya kok cappuccino?
Selama pelajaran Kiran hanya cemberut hingga pelajaran selesai. Laras yang menyadari hal tersebut memuutuskan untuk bermain ke rumah Kiran.” Tante, Kirannya ada? Boleh saya masuk?” Izin Laras kepada Mama Kiran.”Tentu, masuk saja, Kirannya ada di balkon atas. Gak tahu dari pulang sekolah kok cemberut aja tuh.” Jawab Mama Kiran. Segera Laras menyusul Kiran ke kamarnya, tanpa permisi Laras pun langsung menuju balkon kamar Kiran. Laras menemukan sahabatnya sedang menangis di balkon kamarnya, Laras yang khawatir akan apa yang terjadi bila Kiran tetap berada disana pun langsung menghampiri Kiran,” Kiran kamu kenapa? Kamu bisa ceriata ke aku
“Satu hal yang harus kamu ingat Ran, Kak Dimas gak akan bisa kamu lupain. Walau raganya tlah tiada, kalian terpisah jarak dan waktu.Tapi kini dia hanya hidup dalam hati kamu dan hatiku. Kalau masalah kemiripannya dengan Kak Ruli, aku rasa itu baik buat kamu. Kamu bisa dapatkan pengganti Kak Dimas untuk menggantikannya. Tapi kamu jangan terlalu berharap.” Laras menenangakanku.” Mungkin Allah mendengar do’a kamu dan membalasnya dengan cara ini walau masih sedikit sulit kamu mengerti. Udah be positive aja ya?” Tambah Laras. Aku hanya mengangguk dan mencoba memikirkan apa yang telah dikatakan oleh Laras. Karena sudah cukup sore, Aku pun mengantarkan Laras ke beranda rumah untuk mengambil mobilnya.
Keesokan harinya Kak Ruli menghampiriku,” Kiran, kemarin kenapa kamu pergi begitu aja? Apa ada masalah?” Tanya Kak Ruli.” Gak ada kok Kak, kemarin aku Cuma buru – buru aja lupa
***********************************************************************
PERTENGKARAN HEBAT
Semakin hari kami semakin lengket seperti kakak dan adik yang sebenarnya. Suatu hari aku bertanya pada Kak Ruli,” Kakak sudah penya cewek? Aku gak percaya kalau belum punya, aku mau Kakak kenalin aku sama dia ya? Dia itu kayak apa sih Kak?”” Ya, udah punya donk, namanya Zahra dia beda sekolah sama kita. Pokoknya dia itu cantik, pinter, dan lembut banget. Kebetulan malam minggu besok aku mau ketemuan sama dia kamu mau ikut?” Ajak Kak Ruli.” Mau Kak,” jawabku begitu antusias.
Akhirnya hari itu pun datang, aku bertemu dengan Kak Zahra pacarnya Kak Ruli. Dia memang cantik dan begitu sopan, sangat pantas untuk Kak Ruli yang baik. Begitulah pertemuanku dengan Kak Zahra yang begitu mengesankan untuk mengenal gadis sepertinya. Setiap hari ku habiskan untuk belajar dan sekedar SMS an dengan Laras, Kak Ruli, juga Kak Zahra. Aku senang sekali, Kak Zahra juga bisa mengerti kehadiranku di kehidupan Kak Ruli sebagai adiknya. Dan Kak Zahra juga menyayangiku seperti Kak Ruli menyayangiku.
Aku sedikit merasakan keganjilan dengan Kak Ruli. Aku merasa ada yang berubah darinya. Aku yang sama sekali tak mengerti dengan apa yang sebenarnya terjadi pada Kak Ruli pun menanyakan in pada Kak Zahra. Tapi Kak Zahra menjawab ia tak merasa ada yang aneh dengan Kak Ruli dan Kak Ruli juga tak menceritakan apa pun padanya. Tapi ia berjanji untuk mencari tahu tentang ini kepadaku. Aku pun tak mempunyai keberanian untuk bertanya langsung pada Kak Ruli tentang sebab ia menjadi berubah seperti ini. Aku hanya bisa meluapkan kesedihanku pada Laras.” Kiran, udah deh kamu gak boleh nangis lagi. Dia
Sudah tiga hari Kak Ruli tak bicara padaku, sikapnya begitu dingin padaku. Dan tak ada perkembangan informasi dari Kak Zahra. Akhirnya ku beranikan diri untuk menanyakannya langsung pada Kak Ruli hanya saja melalui telpon.”Assalamu’alaikum Kak, ni Kiran Kakak punya waktu buat bicara sama Kiran gak?” Tanyaku.”
************************************************************
SIAPA KAK RULI YANG SEBENARNYA?
Semenjak itu aku menjadi Kiran yang benar – benar menjengkelkan, begitu mudah tersinggung dan sangat acuh kepada orang lain.
Dulu ia ada di hatiku
Selamanya pun akan selalu begitu
Walau kini kami terpisah jarak dan waktu
Kau ka tersimpan di hatiku
Saat ku bersusah payah melupakanmu
Kau datang di saat yang tepat
Walau tak serupa
Tapi ku merasa ada yang sama
Aku tahu tak
Karna kau hanya miliknya
Dan sungguh aku tak mrebutmu darinya
Karena ku hanya seorang bayangan maya di hidupmu
Yang semakin pudar…
Inilah puisi yang ku buat saat aku bertengkar dengan Kak Ruli karena ia sudah ku anggap seperti kakakku sendiri. Tapi ia hanya menganggapku sebagai bayangan maya di hidupnya.
Lalu aku teringat harus meminta maaf kepada Kak Zahra karena aku telah menyakiti hatinya. Ku putuskan untuk ke sekolah Kak Zahra.” Kak Zahra, sini.’ Teriakku sambil melambaikan tanganku pada Kak Zahra.”Lho Kiran kok ada disini? Kamu bolos sekolah ya? Ntar Kak Ruli marah lho kalau tahu kamu bolos sekolah?” Tanya Kak Zahra padaku.” Enggak kok Kak,toh kalau Kak Zahra bilang ke Kak Ruli dia juga gak bakal peduli lagi kok sama aku. Kebetulan sekolah lagi ada rapat jadi aku mau main kesini buat bicara sama Kak Zahra. Bisa kita bicara? Tapi jangan disini ya Kak?” Ajakku. Kak Zahra hanya mengangguk. Akhhirnya kita ke café langganan aku, Kak Ruli, dan Kak Zahra.
“Kiran ada apa sih? Kok kayaknya penting banget? Kamu aja sampai nyamperin ke sekolah?” Tanya Kak Zahra penasaran. “ Kiran minta maaf sama Kakak kalau selama ini Kiran sering menyakiti hati Kak Zahra. Tolong maafin Kiran ya Kak?” Pintaku pada Kak Zahra karena begitu takutnya aku pada Kak Zahra dan Kak Ruli hingga tubuhku gemetaran dan tak kuasa menahan air mata. Sebenarnya ada apa Kiran? Kamu ceriata aja sama Kakak, jangan buat Kakak semakin bingung?” Tanya Kak Zahra lagi.” Kakak tahu
Hari – hari ku lalui tanpa Kak Ruli. Kami kini seperti musuh bebuyutan. Tapi jujur setelah aku berpapasan dan melihat tatapan mata yang kosong itu, membuatku takut hingga aku menangis. Di belakang Kak Ruli aku masih tetap jaga contact dengan Kak Zahra dan sering curhat padanya. Hingga Kak Zahra tahu betapa berartinya Kak Ruli untukku. Lalu Kak Zahra perlahan menyadari bahwa dirinya dan aku sama – sama memiliki tempat yang indah di hati Kak Ruli.Karena sejak kami berbicara terakhir kali juga ada sedikit perubahan pada diri Kak Ruli yang dirasakan oleh Kak Zahra.
Hari ini aku di ajak bertemu di café biasanya oleh Kak Zahra. Dan aku datang lebih awal lalu duduk di kursi yang telah kami peasan. Aku sangat tertkejut melihat Kak Zahra yang datang bersama dengan Kak Ruli. Sungguh aku ingin menangis saat itu tapi aku harus memperlihatakan ketegaranku di depan Kak Ruli dan Kak Zahra. Lalu mereka duduk.” Zahra, kenapa kamu ajak Kiran juga tanpa memberi tahu aku?” Tanya Kak Ruli pada Kak Zahra.”Aku gak ada maksud apa – apa kok Kak, aku cuma mau buka mata kalian. Kalian itu udah dewasa, gak sepantasnya kalian jadi kaya’ gini hanya kareana aku. Aku memang kekasihmu, aku tahu itu. Tapi ada sedikit iri di hatiku karena kamu telah membagi hatimu untuk Kiran sebagai adikmu. Aku bisa mengerti itu karena kami sudah mamiliki tempat indah masing – masing di hatimu. Apa arti kalung belahan jiwa yang kalian miliki aku melihatnya saat pertama kali Kakak mengenalkanku pada Kiran. Aku sempat berpikir kenapa itu bukan untukku? Tapi kini ku tahu jawabnya Kak Ruli. Aku telah mengerti itu. Jadi bersikaplah lebih dewasa Kak, Kiran?” Kata Kak Zahra pada kami. “ Kalung Belahana Jiwa?” Tanya kami serentak.” Jadi Kakak juga mempunyai ini?” Sambil mengeluarkan milikku. Lalu Kak Ruli menunjukkan miliknya dan mengangguk.” Darimana Kakak mendapatkannya? Apa Kakak tahu seharusnya kalung itu milik siapa?” Tanyaku pada Kak Ruli sambil menunjuk kalung yang di pakai Kak Ruli.
Dengan tergagap – gagap ku ceritakan pada Kak Ruli tentang apa yang terjadi pada Kak Dimas,” Itu adalah hadiah Ulang Tahunku yang ke 16 sekaligus kado terakhir dan termanis yang diberikan oleh Kak Dimas. Apa Kakak tahu siapa Kak Dimas? Memang aku tak pernah menceritakan ini pada Kak Ruli karena aku ingin sedikit mengurangi kesedihan hati yang ku alami Kak. Itu kado terakhir yang di berikannya padaku karena tiga bulan yang lalu dia meninggal karena kecelakaan. Dan kalung itu tidak aku temukan di jasad Kak Dimas. Aku tak yakin Kak Dimas mengalami kecelakaan tunggal. Tapi kini aku tahu dimana kalung itu berada. Dia berada di leher pembunuh Kak Dimas yang sempat aku harapkan akan menjadi pengganti Kak Dimas.”
“ Maafkan aku Kiran, sungguh aku tak tahu jika kamu adalah adik dari orang yang telah aku tabrak. Dan aku benar – benar tak bermaksud menabraknya ini hanya sebuah kecelakaan.” Jelas Kak Ruli padaku.” Kak Ruli benar – benar jahat, telah membohongi aku selama ini.” Teriakku kamudian meninggalkan café dan segera masuk mobil.” Kiran, tunggu aku mau jelaskan ini ke kamu.” Teriak Kak Ruli yang ingin mengejarku, tapi tertahan oleh tangan Kak Zahra.”Kak walau aku baru tahu soal ini, tapi biarkan Kiran menenangkan dirinya dulu, ini tak
Tak lama kemudian Kiran yang menyetir mobil dengan kecepatan tinggi dan pikiran yang tak karuan tak menyadari bahwa di depannya terdapat pohon, yang akhirnya menghentikan laju mobilnya. Kak Ruli dan Kak Zahra yang melihat hal ini segera turun dari mobil dan melihat keadaan Kiran. Kiran sudah tergeletak tak berdaya bersimbah darah. Dengan segera Kak Ruli mengangkat Kiran dari mobilnya dan membawanya ke rumah sakit.
******************************************************************
PERTANGGUNG JAWABAN YANG INDAH
” Ini semua gara – gara aku Zahra.” Sesal Kak Ruli.” Bukan Kak, ini bukan salah siapa pun. Hanya keadaan yang mengaharuskan kalian jadi begini.” Kata Zahra yang mencoba menenangkan Kak Ruli.”Ruli, Kiran mana Nak?” Tanya Mama Kiran.” Masih ada di IGD Tante.” Jawab Kak Ruli. Kemudian Dokter pun keluar dan bertanya,” Mana keluarga dari pasien Kiran?” Kami Dokter, bagaimana keadaan Kiran? Dia baik – baik saja
Segera kami masuk ke IGD dan melihat keadaan Kiran, yang tak henti – hentinya menyebut “ Kak Dimas”. Membuat semua orang yang ada di ruangan itu tak kuasa menahan air mata. Laras yang baru saja datang pun tak kuasa melihat sahabatnya yang koma dan terus memanggil nama Kakaknya yang sudah meninggal.
Sudah 3 hari aku dalam keadaan koma.Aku benar – benar tak tahu sebenarnya aku berada dimana? Aku melihat sebuah tempat yang begitu indah dan melihat Kak Dimas. Ia pun menghampiriku. Aku yang begitu gembira segera mameluknya dan berkata, aku kangen banget sama Kakak. Dan aku sudah mengetahui siapa yang telah membunuh Kakak. Aku berjanji untuk membalasnya.” Dengan tersenyum Kak Dimas berkata,” Adikku yang tersayang aku pun sangat rindu padamu. Tapi kamu tak boleh menuntut balas atas kematian kakak. Karena ini hanya kecelakaan Ruli tak sengaja menabrak Kakak, sayang. Tapi apa kamu tidak berpikir, mungkin ini jalan yang diberikan oleh Tuhan atas semua do’a kamu. Ia mengembalikan Kakakmu walau dengan cara yang berbeda. Ingat Kakak
Mama yang mendengar pengakuan Kak Ruli pun tak kuasa menahan air mata.” Lalu kamu mau bertanggung jawab bagaimana? Kak Dimas sudah gak ada Kak? Tangisku meminta pertanggung jawaban Kak Ruli. Lalu Kak Zahra mendekatiku dan duduk di sampingku.” Kiran, bagaimana pun pertanggung jawaban yang diberikana Kak Ruli tak
Hari ini aku keluar dari rumah sakit, dan begitu bahagianya melihat Kak Ruli dan Kak Zahra yang membopongku. Hari – hariku kini selalu ku habiskan dengan orang – orang yang aku sayangi juga Kakakku Kak Ruli dan Kak Zahra. Aku yakin Kak Dimas pasti tersenyum bangga padaku saat ini.Dan aku menyadari sesuatu, bahwa semuanya tak ada yang abadi. Semua pasti kembali kepada sang pencipta. Tetapi ingat siapa pun dia akan selalu hidup dalam hati kita. Dan jika kita yakin akan sesuatu yang pergi suatu saat ia akan kembali.Inilah Realita pergi dan kembali. Yang tak
TAMAT
Tidak ada komentar:
Posting Komentar