Rabu, 10 Februari 2010

CERPEN ANDALAN PENYABET JUARA III BULAN BAHASA KABUPATEN KEDIRI

MERENDA KASIH

By: Indira Dewi Kirana XI IPA 2

“Mitosis adalah cara pembelahan sel yang menghasilkan dua sel Haploid.” Terang Bu Khod saat menjelaskan pelajaran yang sedikit mengganjal pikiran murid – muridnya untuk dapat memahami. Hingga hari kelulusan pun tiba. Lalu Penerimaan Siswa Baru pun digelar.

Seorang gadis yang akrab dipanggil Karin ikut dalam euphoria yang namanya PSB atau Penerimaan Siswa Baru. Walaupun itu bukan keinginannya. Akhirnya dia bersekolah di Madrasah Aliyah, itu pun karena tekanan dari ayah tirinya. Memang ia termasuk perempuan yang tidak semestinya, dia suka ngedance dan ngeband sama teman – temannya, yang menurut orang tuanya lebih banyak mudhorotnya daripada manfaatnya. Sekilas kehidupannya terlihat sangat glamour, dibuai dengan fasilitas – fasilitas yang mewah, seperti Kendaraan pribadi, laptop, Blackberry dan masih banyak yang lainnya.

Ini hari pertama ia masuk Sekolah yang dianggapnya seperti penjara. Dia benar – benar terkekang, tubuh indahnya yang biasanya terbalut aneka busana yang ngetrend sekarang terlilit jilbab dan longdress. Dia juga tak bisa ngedance dan ngeband seperti dulu. Kini ia dijejali dengan Rebana yang sungguh memekakkan telinganya, hingga terbesit di pikirannnya untuk mengadakan agresi di sekolahnya agar orang tuanya memindahkannya dari sekolah yang bak penjara baginya.

Mulai berulah dari membuat heboh di kelas, merokok, dan juga berani berkencan dengan cowoknya di sekolahan.

“Ya Ampun, Apa yang kamu lakukan? Teriak Bu Khod histeris membuang puntung rokok yang berada di antara jari – jari Karin.“Apa kamu tidak tahu peraturan di Madrasah ini kalau telah diharamkan merokok dan pacaran di sekolahan.” Hardik Bu Khod pada dua sejoli itu. “Aduh, ibu jangan kolot deh. Ini namanya gaul Bu? Kita hidup di zaman modern.” Jawab Karin enteng sambil menyemburkan asap rokok ke depan muka Bu Khodijah. “Kamu benar – benar keterlaluan! Ayo ikut Ibu ke Kantor Kepala Madrasah.” Paksa Bu Khod

“Siswa baru? Belum tahu peraturan di Madrasah ini? Itu bukanlah alas an karena peraturan telah disosialisasikan dan saya bukanlah orang yang gampang mentolerir pelanggaran kategori berat. Jangan mentang – mentang ayah kamu donatur terbesar di Madrasah ini. Kamu berikan surat panggilan orang tua ini kepada orang tua kamu. Saya tunggu besok pagi dan kamu saya skors selama tiga hari sambil renungkan apa yang telah kamu lakukan.” Semprot sang Kepala Madrasah yang terkenal tegas. Tanpa rasa bersalah, Karin melangkah keluar dari Kantor Kepala Madrasah lalu mengacung – acungkan surat panggilan orang tuanya.

Tak ada penjelasan yang keluar dari mulutnya. Ia hanya menggeletakkan surat panggilan orang tua itu di atas meja kerja Ayah tirinya. Saat ditanya, dia terus melenggang menuju kamarnya dan segera menguncinya.

“Kak, waktunya makan malam. Ayo! Semua sudah menunggu di bawah,” ajak Mamanya sambil mengetuk pintu kamar Karin.

“ Karin nggak lapar Ma. Ntar kalo Karin lapar kan bisa makan sendiri,” sahut Karin dari dalam kamar.

Esok harinya Mama dan Ayahnya memenuhi panggilan Kepala Madrasah. Kepala Madrasah pun menceritakan semua ulah yang telah dibuat anak mereka hingga di skors tiga hari. Mereka pun pulang dengan perasaan marah.

” Karin! Apa kamu memang sengaja membuat Ayah malu. Ayah kira dengan menyekolahkan kamu di Madrasah akan membuat kelakuan kamu itu berubah. Ternyata, ini malah membuat kamu semakin menjadi. Apa yang sebenarnya kamu inginkan? Tanya Ayah tirinya.

“Ayah Tanya apa mauku? Aku mau bebas. Tak ada kekangan seperti di Sekolah Penjara itu.” Jawab Karin.

“Ayah kira, itu bukanlah solusi yang tepat. Sekarang pilihan ada di kamu. Berubah atau semua fasilitas Ayah tarik?” ancam Ayah tiri Karin.

“Mam, kenapa sih gak bantuin Karin. Mama udah gak sayang lagi sama Karin.” Tangis Karin. Karena tak ada jawaban dari mamanya Karin berlari menuju kamar dan menangis disana. Dalam benak ia berpikir Mamanya sudah tak memihak kepadanya lagi.

Hari ini Ulangan Biologi dari Bu Khodijah, namun sebelumnya beliau memberitahu kepada Karin untuk belajar. Ulangan berlangsung. Kelas begitu hening. Semua sibuk mengisi lembar jawaban masing – masing. Teeeeeeet…….Suara Bel tanda ganti pelajaran pun berbunyi. Semua kertas ulangan dikumpulkan. Aneh, Bu Khodijah langsung tertarik pada kertas ujian Karin dan segera mengoreksinya. Sungguh tidak bisa dipercaya, Karin mendapat nilai seratus padahal ia belajar mendadak dan tidak curang karena Bu Khodijah yakin sudah mengawasi anak – anak dengan ketat. Jadi Karin tidak mungkin bisa berbuat curang.

Penjurusan memang hal yang sangat membingungkan. Karena ini akan sangat menentukan masa depan begitu juga Karin. Sebenarnya ia ingin BadgeIPA tersemat di lengan bajunya. Namun ia khawatir itu hanya impian jika melihat kelakuannya selama ini. Hingga sebuah suara membuyarkan lamunannya. “ Karin, temui saya di kantor sepulang sekolah,” perintah Bu Khodijah. Keringat dingin Karin bercucuran saat hendak menuju kantor Bu Khod.

Ada apa Bu? Maaf saya akhir akhir merasa tidak melanggar peraturan, Bu?” Tanya Karin dengan penuh ketakutan.

” Bukan Karin, saya memanggil kamu bukan karena itu. Tapi saya ingin memberi kamu motivasi untuk memilih jurusan IPA. Karena menurut saya kamu mampu untuk mendapatkan itu. Sebenarnya minat kamu ingin masuk jurusan apa? Anggaplah saya ini adalah Ibu yang juga bisa menjadi tempat kamu berbagi.” Kata Bu Khod.

”Jujur Bu, saya tertarik ke jurusan IPA, tapi saya takut saya tidak mampu? Jawab Karin.

” Saya tahu kamu mampu, mungkin hanya ada masalah yang sebenarnya sumbernya itu dari diri kamu sendiri atau keluarga mungkin? Anggaplah saya ini tempat berkeluh kesah kamu.” bujuk Bu Khod.

Sejenak Karin terdiam namun perlahan ia berkata,” Menuruut orang lain hidup saya ini perfect, karena digelimangi fasilitas yang begitu mewah. Tapi sebenarnya saya ini adalah anak yatim sejak saya kelas tiga SD, saya kurang perhatian. Orang tua saya sibuk bekerja sedangkan ayah tiri saya terlalu otoriter. Saya berpikir bagaimana cara mendapat perhatian dari orng tua saya? Akhirnya saya putuskan untuk bandel Bu saya tahu itu salah tapi paling tidak saya mendapat perhatian dari orang tua saya.” Jawab Karin

Sejenak Bu Khod menghela napas, karena sebenarnya ada banyak potensi yang tersimpan di diri Karin yang teretutupi oleh kenakalannya. Tapi dalam hati Bu Khod yakin semua ini bisa dirubah seiring berjalannya waktu.” Menurut saya tindakan kamu itu sangat tidak arif. Pernahkah kamu berpikir jika ada cara lain untuk mendapatkan perhatian dari orang tua kamu? Dengan berprestasi misalnya, karena semua orang tua akan senang apabila anaknya bisa membuat mereka bangga. Saya amat yakin kamu mampu di jurusan IPA. Sekarang tinggal menumbuhkan minat kamu dan semangat kamu untuk belajar. Percayalah saya akan membantu kamu apabila ada kesulitan.” Bu Khod meyakinkan. “Terima kasih Bu,” Kata Karin. Dan tiba – tiba tangannya melingkar di punggung Bu Khod.” Saya belum pernah merasakan pelukan seorang ibu, mungkin seperti ini rasanya ya Bu?” Kata Karin sambil tenggelam dalam hangatnya pelukan Bu Khod yang mulai saat ini dianggapnya sebagai Ibu ke dua baginya.

Sejak saat motivasi dari Bu Khod itu Karin begitu serius belajar juga berkarya. Mulai banyak lomba yang bisa dimenangkannya walau semuanya di bidang sastra. Tapi dia tak patah arang semua kreativitasnya ia tumpahkan di dalam laptop kecilnya. Akhirnya hari penentuan Penjurusan pun tiba, “Karina Dewi”, namanya tercantum di kelas XI IPA 2. Begitu bangganya ia. Kini ia menjadi seorang gadis yang aktif baik di kelas maupun di organisasi. Sampai ia terpilih menjadi Sekretaris OSIS.

“Karin, apa Ibu bilang kamu bisa kalau ada tekad yang kuat dalam hati kamu. Ibu tahu kamu sangt tertarik pada mata pelajaran Biologi.Desember kita akan mengikuti Olimpiade Sains Nasional. Ibu harap kamu mau mengikutinya.” pinta Bu Khod.

” Iya Bu, saya akan berusaha dengan sebaik – baiknya mohon bimbingannya Bu.” Jawab Karin seraya tersenyum – senyum yang dengan tulus bagi guru tercintanya.

Semua kegiatan itu begitu menyita tenaga dan pikirannya. Mulai dari OSIS hingga bimbingan OSN. Saat itu pelajarn Biologi Bu Khod, tiba- tiba keluar darah dari hidung Karin hingga membuat Bu Khod begitu panik. Semua temannya juga segera membawa Karin ke UKS. Tapi darah yang dikeluarkan Karin sangat banyak hingga membuatnya terkulai lemas dan pingsan. Guru piket Madrasah pun melarikannya ke Rumah Sakit, dan memberi tahu orang tua Karin.

Orang tua Karin pun datang dan diminta untuk segera menemui dokter. “Apa benar anda orang tua dari pasien Karin? Mungkin ini sangat berat untuk Bapak dan Ibu terima. Kemungkinan besar ada kenker di otak Karin yang menyebabkan dia sampai mengeluarkan darh begitu banyak dari hidungnya. Untuk memastikannya kami akan mengadakan cityscan.” Kata Dokter.

Mendengar penuturan dokter Mama Karin pun menangis di pelukan Ayahnya, dan ayahnya pun berkata,” Lakukan apa pun yang tebaik bagi anak akami. Berapa pun akan kami bayar kalau perlu kami akan meminta rujukan dokter spesialis yang terbaik.” Bu Khod yang diam – diam mengikuti dari belakang pun kaget dan meneteskan air mata.

Setelah beberapa hari Karin tidak masuk sekolah, akhirnya hari ini dia masuk sekolah. Semua berjalan seperti biasa hanya sedikit ada yang berbeda yaitu stamina Karin yang begitu cepat lelah. Semua orang merindukannya karena dia adalah pribadi yang begitu menyenangkan apalagi bagi Bu Khod. Karena Karin mengetahui itu, orang yang pertama ia temui adalah Bu Khod. Karin bertanya dengan gaya cerianya yang biasanya,” Ibu kangen tidak sama saya? Kapan bimbingannya kita lanjutkan Bu?”

Dengan sedikit tergagap dan mata yang tiba – tiba memerah Bu Khod menjawab,’ Tentu Ibu kangen dengan murid Ibu yang paling bandel ini. Mungkin bimbingan kita pending dulu. Karena saya lihat keadaan fisik kamu masih belum terlalu baik.”

Apa Ibu tidak lihat saya ini sudah sehat, jadi kita lanjutkan bimbingan mulai besok ya Bu?” Jawab Karin sambil bergaya bak lahragawan.” Apa kamu yakin Rin?” Tanya Bu Khod meragu. Karin hanya mengangguk.

Tiap hari Karin begitu ceria dengan aktivitas juga bimbingnnya. Namun belakangan ia lebih sering absent karena sakit. Akhirnya teman – teman sekelasnya bersama Bu Khod menjenguk Karin di rumahnya. Karin terlihat begitu pucat dan lemas walau begitu dia mencoba tetap ceria seperti biasanya. Memang ada sesuatu yang harus disenyumbunyikan darinya yaitu tentang penyakit yang ganas yang perlahan menggerogoti tubuhnya.

“Bu tolong daftarkan saya untuk mengikuti OSN Biologi saya berjanji akan berusaha dengan sungguh - sungguh.” Pinta Karin dengan sungguh.

“Saya bisa saja mendaftarkan kamu tapi kamu harus berjanji berusaha dengan baik tapi jangan terlalu memaksakan karena kamu harus menjaga kondisi kamu, bagaimana kamu setuju?” Tanya Bu Khod. Anggukan Karin menjadi jawab atas persetujuan yang telah mereka buat.

Esok harinya Karin sudah masuk sekolah seperti biasanya dan belajar sangat keras, karena OSN tinggal satu minggu lagi. Waktu berlalu begitu cepat.Tak terasa besok adalah hari yang sangat bersejarah bagi Karin. Ditaruhnya undangan untuk menghadiri OSN di atas meja kerja ayahnya, berharap merka bisa datang untuk memberinya support walau itu termasuk hal yang mustahil.

Karin berangkat dengan Bu Khod ke balai kota untuk mengikuti OSN, Karin begitu berharap orang tuanya bisa datang namun mereka tak jua menampakkan diri.” Karin kamu harus berusaha dengan keras buktikan kamu bisa membuat orang tua kamu bangga.” Kata Bu Khod memberikan semangat. Tak selang berapa lama bel mengerjakan soal pun berbunyi, Karin harus segera masuk ruang Tes.

Bu Khod begitu inginmenyenangkan hati Karin hingga Bu Khod pun pergi menemui orang tua Karin untuk memohon waktu mereka untuk melihat Karin sebentar saja. Akhirnya Bu Khod berhasil membawa mereka ke Balai Kota tepat sesaat sebelum bel mengerjakan soal selesai. Binar mata Karin yang begitu gembira melihat orang tuanya bisa hadir dan memberikannya semangat mungkin adalah saat paling membahagiakan dalam hidupnya.

Saat yang ditunggu – tunggu pun tiba, dibacakannya hasil dari OSN Biologi tahun ini. Dari peringkat sepuluh hingga dua namanya tak sama sekali tersebut. Hal itusempat membuat Karin diliputi perasaan takut dan cemas. Namun tak dikira tak disangka” Karina Dewi” sang MC menyebut namanya sebagai juara OSN Biologi tahun ini meminta Karin juga orang tuanya untuk naik ke podium menerima trophy.

” Ini semua karena orang tua saya. Terutama Mama Karin , Karin sayang sama Mama dan Ayah.” Kata Karin saat bebbicara di depan podium. Lalu memeluk Mamanya. Namun tiba – tiba. Pyarrrr Trophy itu tebanting juga dengan tubuh Karin yang tiba – tibaterkulai tak sadarkan diri di lantai.

Karin segera dilarikan ke Rumah Sakit terdekat. Dokter pun keluar dari ruang IGD dan berkata,” Maaf kami sudah berusaha dengan keras namun kehendak Allah berkata lain. Pasien Karin tidak bisa diselamatkan. Mama, Ayah Karin, juga Bu Khod terkejut dan sangat sedih karena kehilangan anak yang begitu mereka sayangi. Sejak saat itu mereka menyadari anak tidak hanya membutuhkan materi atau pendidikan formal saja tetapi juga memerlukan kasih sayang orang tua karena keluarga adalah pendidikan yang pertama dan utama.

(TAMAT)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar