Kamis, 11 Maret 2010

Hari Ini

This is a boring day......
I spend it with school activity....
I want a person who make me smile
Who is it...???
I can't answer it..
Just the God who know...
And also time and situation will give the answer.....

Sabtu, 06 Maret 2010

LET ME LOVE YOU

The parents of his ex - girlfriend saw him. At home they told their daughter to go home. She arrived in Airport on Friday. She went to her favourite cafetaria. She was very surprised when she saw Dimas. And they talked each other. One day a fter that meeting she met Dimas at Dmas's office. And she tod about her feeling to Dimas," even I can go away from you, but I can't run away from this feeling, I still love you Dimas." Dimas was very surprised and he answered," Thank you, you had made me become a success man, but it also make me realize that you're not the best for me. I'm sorry to say it, But Karin you only love my money not love as I am." Karin cried and went home. She drove her car and hit a tree. She was hospitalized and died at that time because she was bleeding too much. Dimas felt sad when he heard about Karin's death. Suddenly he remembered to his best friend,Esa. On 14 February he had candlle light dinner in a hill with Esa. He said about his feeling to Esa," Let me love you, Esa. We can start it from the beginning." Esa couldn't talked anything just a nod as an answer.

Senin, 15 Februari 2010

NAFAS TERAKHIR

BY: Sheriv Band
Sudah Kau tak merindukan aku
Aku tak bisa rindu padamu
Andai saat kau sesalkan aku
Cinta kau tlah berpaling dariku
sudahlah ku tak sanggup memendam rasa cintaku kepada dirimu kepada cinta ku
Reff:
bagiku engkau adalah napas terakhirQ
dan aq kan sesal bila tanpa dirimu di jantungku
sampai hayatku kan berakhir ku kan slalu setia
menjadi hatimu menjadi relung napasmu

sudah jangan kau tinggalkan aku
Aq tak bisa hidup tanpamumu
sudahlah Q tak sanggup memendam rasa cintaku kepada dirimu kepada cinta ku
Back to reff

Minggu, 14 Februari 2010

REAL LOVE

What is the rel love...????
Love is difficult to find
Difficult to leave and impossible to forget it..

Who is your real love…????
That's a people who love you so much
Not a people who just know your favorite thing or you hate so much
But a people who know the best for you
Not a people who just want your love
But a people who always understand your condition
Not a people who just want have you
But a people who can loose you for your happily
Not a people who want to touch you
But a people who feel you're so beautiful to touch
Not a people who just love your beauty
But a people who always love you...anything you are

SELAMATKAN IBU BUMI

Bumi….
Seorang ibu yang kini telah sampai di penghujung usia
Sepanjang hidupnya
Dihabiskan untuk melindungi manusia
Memberi naungan dan kehidupan
Namun kini ia merintih
Di akhir hidup….
Dia harus menuai balasan atas perbuatan…
Manusia yang dulu dikasihinya
Malah menggerogotinya
Sungguh membuat hati terkoyak
Kini ia meluapkan murka hati
Dengan perlahan membuka selimut diri
Yang akan mulai membinasakan
Pernahkah kau berpikir????
Perbuatanmu membuat ibu bumi tersakiti
Akhirnya ia tak bisa menahan….
Panas yang kau ciptakan
Akhirnya ia mulai melepas perlindungan terakhirnya.
Ozon kini sudah bolong
Bersiaplah menyusul kepergian Ibu Bumi
Bilakah kau ingin ini terjadi?
Mari selamatkan Ibu Bumi
Dengan mulai hijaukan bumi ini
Mulai diri sendiri
Mari semai harapan
Mulai saat ini
Asap rokok matikan

LET’S SAVE OUR MOTHER EARTH
SO SHE CAN SMILE AGAIN

REALITA PERGI DAN KEMBALI

REALITA PERGI DAN KEMBALI


INDIRA DEWI KIRANA

SELAMAT JALAN PAPA


“ Puanas. ” Teriakku .Jebruak !! “Apa sih dek?” Kak Dimas bertanya. “Ini lho mas AC ku mati, aku mau tidur tapi gak bisa.Gerah buanget.”Jawabku. Kak Dimas hanya geleng kepala melihat kelakuan adiknya yang masih kekenak – kanakan. “ Ya udah dek, kamu tidur di kamar kakak aja, ACnya hidup tuh.” Suruh Kak Dimas.Biasa aku mau perez dikit ah ma kakakku,” Makasih ya Kak, Kakak memang kakakku yang paling guanteng dan paling baek .”

Inilah sebuah keluarga kecil yang begitu harmonis, Terdiri dari seorang anak perempuan bernama Kiran, ya itulah aku. Aku memiliki Kakak laki – laki yang begitu menyayangiku dia bernama Dimas. Juga Mama dan Papaku yang memberiku limpahan kasih sayang.

Akhirnya aku pun tidur di Kamar Kak Dimas.Tak disangka di kamar itu, aku melihat sebuah fotoku dan Kak Dimas saat kami berlibur bersama di Malang saat masa kecil kami dulu. Tapi kini aku sudah menjadi Kiran remaja berumur 15 tahun yang mulai mencari jati diri. Karena begitu sibuk melamun, hingga aku pun tertidul pulas dinina bobokkan sepoi – sepoi AC.

Tok..tok..tok….”Kiran bangun sayang udah siang ni, kamu gak sekolah sayang,” Tanya Mama. Aku menjawab sambil mengangkat selimutku kembali,” Ntar Ma, masih ngantuk ni.” Sampai akhirnya aku terbangun dan langsung loncat dari tempat tidurku karena jam yang sudah menunjukkan pukul 6. Aku pun tergesa – gesa mandi dan mempersiapkan keperluanku untuk berangkat sekolah. Lalu beranjak turun untuk segera sarapan.

“ Ayo cepet,udah jam berapa ni? Gak usah sarapan nanti kita terlambat sekolah.” Kata Kak Dimas. Karena ultimatum Kak Dimas itu,aku hanya sempat nyeruput susu yang sudah tersedia di meja, dan berkata,” Papa, Mama Kiran sama Kak Dimas berangkat dulu. Assalamualaikum.” Aku dan kakakku akhirnya berangkat dengan tergesa – gesa. Sesampainya di sekolahku dan turun dari motor kakakku. Ku cium tangan Kak Dimas dan berkata,” Hati – hati ya Kak, jangan lupa aku. Okey?” “Iya adikku adikku yang super bawel.” Jawab Kak Dimas sambil menurunkan kaca helmnya dan akhirnya tancap gas. Maklum jarak sekolahku dan sekolah Kak Dimas cukup jauh. Aku bersekolah di SMP Harapan Jaya dan Kak Dimas bersekolah di SMA Cinta Damai.

Bel pulang berdenting, aku pun berjalan menuju Gerbang sambil menunggu Kak Dimas. Tapi tidak seperti biasanya Kak Dimas udah di depan gerbang sambil nenteng helm. Aku yang merasa aneh dengan perilaku Kak Dimas pun bertanya,” Ada angin apa ni? Tumben cepet banget jemputnya Kak?” Tapi Kak Dimas hanya diam tanpa kata di hanya memperlihatkan wajah gelisahnya yang menjadi jawab atas semua tanyaku.

Ku lihat bendera kuning melambai di depan rumahku. Seakan menyuruhku untuk segera masuk dan melihat apa yang sebenarnya terjadi. Brukk!!! Tubuhku terkulai lemas menghantam tanah saat ku lihat wajah ayahku yang pucat pasi, tubuhnya begitu dingin tanda tiada lagi denyut nadi yang manghangatkannya. Sungguh sulit ku katakan, tapi kini Papaku telah meninggalkan kami karena penyakit jantung yang sudah lama dideritanya.” Papa bangun, lihat Kiran. Papa sayang sama Kiran kan? Kalau Papa sayang Papa bangun peluk Kiran .” Kataku sambil menggoncangkan badan Papa.” Udah cukup cukup Ran, lihat Mama, betapa sedihnya dia. Apalagi Mama akan melewati semua tanpa Papa. Beban Mama udah berat jangan kamu tambah lagi.” Kata Kaka Dimas. “ Tapi Kak,” bantahku.dan kuterdiam saat jari Kak Dimas menyentuh bibirku . Lalu berkata,” Sssstt, udah jangan terlalu larut aku juga sedih sama kaya’ kamu. Tapi kita harus mencoba tetap bertahan,demi Mama.” Mama yang mendengar perdebatan antara aku dan Kak Dimas datang menghampiri kami. Mama mendekap kami penuh kehangatan cinta dan kasih sayang , hingga aku dan Kak Dimas tak sanggup membendung air mata.

Saat yang paling berat kami lalui adalah melihat wajah Papa untuk yang terakhir kalinya. Karena begitu sulit melepaskan kepergian Papa, aku pun tak kuasa lagi menopang tubuhku. Hingga semua terlihat gelap dan tubuhku terkapar tak sadarkan diri. Namun aku masih sempat mengatakan sesuatu,” Selamat jalan Papa.”

********************************************************************

KADO ISTIMEWA

“Ini buat Papa.” Kataku sambil mengambilkan nasi goreng untuk sarapan pagi ini. “ Kiran,apa sih yang kamu lakukan? Kamu harus tahu dan terima kenyataan ini kalau Papa sudah nggak sama kita lagi.” Bentak Kak Dimas padaku. Aku yang kaget mendengar bentakan Kak Dimas langsung berlari masuk ke dalam kamar lalu mengunci diri di dalam kamar. “Apa salah kalau aku masih belum bisa melupakan Papa? Begitu banyak kenangan indah yang telah kita lalui bersama, yang pasti tak kan pernah kulupakan sampai kapanpun.” Tangisku di dalam kamar. Tok..tok…tok…”Kiran, buka pintunya dek,kita bisa bicara sebentar gak?” Tanya Kak Dimas sambil mengetuk pintu kamarku. Aku berpikir sejenak, aku buka tidak ya pintunya, tapi akhirnya kubukakan pintu kamarku dan Kak Dimas pun masuk.Aku bertanya, Apa ini semua salah? Dia kan Papa kita? Seandainya aku salah aku gak suka sama cara Kakak barusan.”” Sekarang lihat mataku.” Kata Kak Dimas. Tapi aku memilih untuk memalingkan pandanganku dari Kak Dimas karena dalam hatiku kecilku aku tahu kalau aku memang salah tapi aku gak suka sama cara Kak Dimas padaku.Tangan Kak Dimas memegang pipiku dan mengarahkannya ke depan wajahnya lalu berkata,” Sekarang lihat mataku,aku bener – bener minta maaf atas perilakuku tadi. Tapi aku Cuma pengen kamu tahu kalau Papa pasti sedih melihat kesedihan kita yang terlalu berlarut – larut. Lebih baik sekarang kita Sholat menghadap Allah minta ketenangan dalam menghadapi cobaan ini kapada – Nya.Kakak minta maaf ya adikku? Jangan nangis lagi donk?” Pinta Kak Dimas padaku sambil mengusap air mataku yang terlanjur jatuh membasahi pipi.

Hari ini tanggal 24 April besok adalah hari ulang tahunku. Jujur sebenarnya aku lupa kalau besok adalah hari ulang tahunku. Karena menurutku hari ini sama dengan hari – hari biasanya. Anehnya seharian ini aku sama sekali tidak melihat Kak Dimas. Aku gak tahu dia pergi kemana. Ya udahlah namanya juga anak muda dan aku gak mau tahu itu kan privasinya Kak Dimas.

Hari ini tepat 25 April, dan aku sengaja meng ‘silent’ kan Hpku, agar istirahatku malam tadi tidak terganggu. Pagi ini aku begitu sibuk membalas SMS dari taman – temanku yang sejak tadi malam sudah membanjiri INBOXku. Di sekolah teman – temanku banyak yang memberikanku kado. Bahkan kado yang tak terlupakan berupa siraman adonan kue yang membuatku terlihat sangat berantakan. Tiba – tiba Hpku bergetar, ada sebuah pesan pendek dari Kak Dimas.” Dek, kamu pulang sendiri ya? Kakak mau pulang terlambat.” Aku pun menjawab,” Ya Kak, adek ngerti kok.” Dengan sedikit terpaksa akhirnya aku pulang sendiri dengan angkutan umum. Sesampainya di rumah, aku merasa aneh saat masuk ke dalam rumah yang sepi banget gak kaya biasanya.Kulihat sebuah kue tart dan enam belas lilin yang sudah menyala. Dan di sebelahnya ada sepucuk surat.

Tiup lilinnya, lalu make a wish

Setelah itu mundur lima langkah dan lihat ke atas

Byuuurrr…..Ujan? Gak mungkin kan? Ini di dalam rumah.” Mama, Kak Dimas turun lihat ni Ma bajuku basah semua.” “ Iya bentar, tunggu Kakak and Mama akan segera turun adik bawelku.” Kata Kak Dimas. Melihat Mama dan Kak Dimas, aku langsung mengambil tangan mama dan segera ku cium tangannya. “ Sayang, hari ini kamu sudah 16 tahun. Mama harap kamu bisa lebih dewasa dan lebih bisa berprestasi lagi. Mama sayang sekali sama Kiran.” Kata Mama sambil membelai kepalaku. “ Sini donk adikku, peluk kakakmu yang ganteng ini donk.” Kata Kak Dimas. Aku pun mendekap erat Kak Dimas. “ Kiran, sekarang kamu tutup mata kamu, kakak punya sesuatu buat kamu.” Pinta Kak Dimas. Ku tutup mataku dan kini aku merasakan ada sesuatu yang tersemat di leherku. “ Hati ini kuserahkan ke kamu, aku harap kamu bisa menjaganya apa pun yang terjadi. Mungkin apabila nanti kita sudah terpisah jarak dan waktu. Aku yakin ini bisa membantu kamu untuk mengobati rindumu ke Kakak. Aku juga membawa yang sebelahnya agar aku juga selalu ingat sama adikku yang bawel dan Cuma satu ini.” Kata Kak Dimas padaku.” Makasih ya Kak.” Kataku pada Kak Dimas yang telah memberiku hadiah ulang tahun yang begitu indah ini.

“Udah – udah, Kiran sama Dimas mandi dulu sana. Setelah itu kita makan bareng. Mama sudah menyiapkan makanan kesukaan kalian.” Suruh Mama. “ Siap Mama.” Jawabku serempak dengan Kak Dimas. Hari ini sungguh sangat berkesan dan hari yang tak terlupakan bagiku. Semua orang begitu menyayangiku. Dan aku sudah mendapatkan hadiah terindah. Ya Allah semoga aku bisa membahagiakan orang – orang yang selalu menyayangiku. Amieeen…

*********************************************************************

HARI PENENTUAN

Hari ini hari pertama UNAS sebuah penentuan hidup, yang kurasakan sangat tidak adil. Karena banyak orang yang tak pantas bisa mendapatkan hasil NUN yang begitu baik karena kecurangan yang mereka lakukan, tetapi juga banyak orang yang sangat pantas mendapatkan hasil yang sangat setara dengan kerja kerasnya. Oleh karena itu aku hanya bisa berdo’a dan berusaha untuk tidak mengecewakan orang – orang yang menyayangiku. Tapi kini aku merasa bisa bernafas lega karena ini hari terakhir UNAS. Akhirnya tiba juga hari perpisahan sekaligus pembacaan hasil jerih payah kami selama tiga tahun ini. Aku berangkat ditemani oleh Mama dan Kak Dimas. dibacakanlah hasil UNAS yang meraih posisi lima besar. Mulai dari urutan lima hingga peringkat dua, namaku sama sekali tidak tersebut. Aku sudah sangat takut mengecewakan orang – orang terdekatku.” Mama, kalau seandainya aku gak bisa jadi yang terbaik aku masih tetap anak Mama kan?Sambil memeluk dan mengelus rambutku Mama berkata,” Apapun yang terjadi kamu tetap anak Mama.Kiran gak boleh bilang gitu lagi.” “Nararia Kirana.” Tiba – tiba namaku disebut oleh pembawa acara. Sungguh aku tak menyangka aku menjadi juara umum tahun ini. Alhamdulillah aku bisa membanggakan orang – orang terdekatku.

“ Tuh kan, jangan pesimis dulu donk, aku percaya kalo kamu bisa lakukan yang terbaik jika kamu ada kemauan dan tekad yang kuat.” Kata Kak Dimas. “Hari ini aku juga mengerti sesuatu jika dilakukan dengan hati akan memberikan hasil yang tak terduga. Karena hasil yang cukup memuasakan ini aku jadi bingung ingin meneruskan kemana. Intinya aku gak mau satu sekolah dengan Kak Dimas seperti dulu. Karena semua orang pasti membanding – bandingkan aku dengan Kak Dimas. Memang Kak Dimas itu pinter, tapi gak gitu juga kan? Tiap orang itu diciptakan berbeda – beda, kadang aku jadi sering iri sama Kak Dimas. Tapi aneh sampai sekarang Kak Dimas belum juga punya pacar,” pikirku dalam hati.

Makan malam pun tiba, tidak seperti biasanya hari ini kami makan di restoran favorit keluarga kami untuk merayakan keberhasilanku.” Kiran, kamu sudah pikirkan mau meneruskan studymu dimana? Mama ingin kamu memikirkan ini segera, agar kamu bisa focus menjalani apa yang sudah menjadi kepiutusan kamu. Tanya Mama.” Udah Ma, Kiran biar sekolah satu sekolah aja sama aku, itung – itung aku biar bisa ngawasin dia Ma.” Jawab Kak Dimas.” Aku udah mikirin tentang ini kok Ma. Aku mau sekolah di SMA Candra Nusantara. Bukankah kualitasnya juga tidak kalah dengan SMA Cinta Damai. Enggak, pokoknya aku gak mau satu sekolah sama Kak Dimas, apalagi diawasin emangnya aku ini anak playgroup apa? Aku kan udah gede.” Jawabku.” Ya udah gak usah rebut, malu kan dilihatin orang udah pada gede tapi pada masih seneng berantem kaya ank Playgroup aja.Yang paling penting buat Mama dimana pun kamu meneruskan study kamu, akmu tetap bisa mempertahankan prestasi kamu dan satu lagi sudah kamu pikir Kiran?” Tanya Mama lagi.” Udah dipikirin mateng –mateng kok. Jawabku sambil menganggukkan kepala. Akhirnya kami menyelesaikan makan malam hari ini dan pulang ke rumah.

********************************************************************

SEKOLAH BARU, HARIKU BARU

SMA Candra Nusantara, sebuah SMA swasta yang ternama di Kotaku. Sekarang aku tinggal di kelas X 1. Disini aku bertemu teman baru, guru baru dan pastinya lingkungan baru.Aku sama sekali tidak mengalami suatu kesulitan yang berarti dalam hal sosialisasi dan beradaptasi. Hingga aku berkenalan dengan teman sekelasku, namanya Laras. Dia juga cantik dan pintar. Karena hobi kami yang kebetulan sama, akhirnya kami menjalin persahabatan hingga begitu dekat.Sampai suatu hari aku ingin mengajak Laras ke rumahku lalu aku berkata,” Laras maen ke rumahku yuk? Ntar aku kenalin sama Kak Dimas dan Mamaku. Mau kan?” Lalu Laras menjawab,” Boleh juga tuh,itu ide yang bagus. Tapi aku pulang dulu ya, minta ijin ma ortu dan ganti baju.Kan gak sopan kalo masih pake seragam bertamu ke rumah orang?” “ Okey de, aku tunggu ya? Jangan sampai lupa, sampai nanti. Aku pulang dulu ya Ras.” Kataku. Anggukan Laras menjadi jawabannya.

Ting…tung…ting…tung… Bel rumahku berbunyi.” Ran, buka pintunya gih, ada orang tuh.” Teriak Kak Dimas.” Kakak aja yang bukain, aku masih sibuk di kamar.”Jawabku. Dengan separuh hati Kak Dimas membukakan pintu.” Sore Kak, Kirannya ada?” Tanya suara di balik pintu tadi dengan penuh kelembutan.” Ada tuh masih di kamar. O ya sampai lupa, silakan masuk. Aku Dimas kakaknya Kiran, kamu siapa kok belum pernah lihat ya?” Tanya Kak Dimas sambil mengulurkan tangannya.” Sa…saya Laras Kak, teman sekelas Kiran.” Perlahan dijabatnya tangan Kak Dimas. Tetapi sebelum sempat ia lepaskan jabatan tangannya dari Kak Dimas, tiba – tiba aku datang dan langsung nyerocos,” Gimana udah saling kenal kan? O iya Laras mau minum apa?”” Apa aja.” Jawab Laras.” Apa aja asalkan yang buatin Kak Dimas he…he..he…” Sindirku.” Apaan sih,norak.” Kata Kak Dimas. Akhirnya aku berlalu dengan tawa di hatiku. Melihat wajah merah Kak Dimas dan Laras. Mereka itu sama – sama malu tapi mau.

Aku kembali dengan membawa tiga gelas cappuccino di nampan. Karena kami memang sama – sama suka dengan cappuccino hangat, sehangat suasana sore ini. Kemudian Laras mengambil sebuah foto keluarga kami, lalu bertanya,” Ran laki – laki ini siapa?” Dengan terbata – bata aku menjawab,” Itu papaku, dia meninggal 1 bulan yang lalu karena penyakit jantung yang memang sudah lama dideritanya.” Laras pun berkata,” Maafin aku Ran, aku bener – bener gak tau.” Aku menjawab pertanyaan Laras dengan penuh ketegaran, Gak apa – apa toh ini memang salahku tidak menceritakan tentang ini padamu.”

“ Assalamu’alaikum. Wah asyik banget ni, siapa ini, Mama kok gak dikenalin.” Kata Mama yang baru pulang kerja.” Ini Laras Ma, teman sekelas Kiran.” Jawabku. “ Kenalkan saya Laras tante.” Laras memperkenalkan diri sambil mencium hangat tangan mamaku.” Ya sudah Laras, tante masuk ke dalam dulu, tante capek seharian kerja.” Kata Mamaku. Laras hanya mengangguk karena dia mengerti bagaiman capeknya Mamaku setelah seharian kerja. Karena orang tuanya juga termasuk jajaran direksi sebuah perusahaan tekstil ternama. Setelah kita ngobrol panjang kali lebar, akhirnya Laras memutuskan untuk pulang,” Kiran, Kak Dimas, Laras pulang dulu ya? Sudah malam salam aja buat tante.” Kak Dimas dengan semangat menjawab,” Hati – hati ,sudah malam kalo pulang nyupir sendiri.””Ya pantas kalau kita khawatir sama Laras,dia cewek bawa mobil sendiri pula. Cuma penjahat goblok yang gak macem – macem sama dia.Huuss aku kok jadi ngelantur gini ci.Aku berdo’a aja biar Laras smpai rumah dengan selamat.” Hati – hati ya Ras, kapan – kapan maen kesini lagi, sampai ketemu besok ya.” Laras hanya mengangguk di dalam Honda jazz merahnya, dan akhirnya berlalu.” Kak Laras cantik ya?” Tanyaku pada Kak Dimas.” Iya, dan yang paling penting dia itu sopan gak kaya’ kamu.” Jawab Kak Dimas enteng. Kakak suka ama Laras ya? Ntar aku bilangin deh.” Kataku sambil menyikut perut Kak Dimas dan segera berlari kalau tidak, Kak Dimas akan membalasku. Entah kenapa, aku merasa Laras adalah wanita yang tepat untuk Kak Dimas. Tapi biarlah waktu yang menjawabnya.

ADA APA DENGAN KAKAKKU DAN SAHABATKU

Di sekolah hari ini aku melihat wajah Laras begitu berbinar – binar tak seperti Laras yang biasanya kulihat. Aku yang merasa sedikit aneh dengan tingkah Laras pun akhirnya bertanya perihal sebab – musababnya dia terlihat begitu ceria hari ini,” Laras,kamu kelihatan happy banget deh hari ini? Boleh bagi cerita ni?” Tapi Laras hanya tersenyum, melamun, sambil memeluk tangannya.” Kamu senang ya, ketemu sama Kak Dimas? Aku rasa kamu memang gadis yang cocok untuk Kak Dimas. Kamu tu baek dan Kak Dimas juga baek pokoknya klop banget de.” Kali ini wajahnya langsung memerah dan lagi – lagi dia hanya menjawab dengan senyuman khas orang kasmaran.

Tiba – tiba aku punya ide gila untuk mengirimkan nomor HP Laras ke Kak Dimas. Siapa tahu mereka memang jodoh.” Message Sent” dan nomor Laras pun telah terkirim ke HP Kak Dimas. Tinggal tunggu reaksinya deh. Di kelas Laras begitu sibuk membalas SMS dari seseorang tidak seperti biasanya dia lebih memperhatikan HPnya daripada pelajaran,sesekali dia tersenyum lalu tertawa. Aku harap itu SMS dari Kak Dimas. Untuk memastikan hal itu , nanti sepulang sekolah aku akan pinjam HP Kak Dimas untuk melihat INBOXnya. Karena aku tahu kebiasaan Kak Dimas yaitu tidak menghapus INBOX sebelum penuh.” Tuh Kak Dimas dah jemput, ikut anter aku ke gerbang yuk?” Ajakku. Laras tak menjawabnya tetapi ia hanya mengikuti langkahku karena tangannya yang ku tarik. Aku naik ke motor dan Kak Dimas berkata,” Laras kita pulang dulu ya? Kamu hati – hati kan nyupir sendiri.” Laras dengan tersipu malu menjawab,” Iya, Kakak dan Kiran juga hati – hati ya?”

Sesampainya di rumah aku meminjam HP Kak Dimas,”Kak, Kiran pinjam HPnya ya?” Kak Dimas menjawab,” Buat apa? Kakak lagi sibuk ?”” Pinjem buat Bluetooth lagi dari HP Kakak, OST Anime yang kemaren kakak baru download, boleh kan Kak? Kakak kan baek?” Jawabku dengan sedikit perez.” Ya udah tapi jangan digeledahin ya?” Kata Kak Dimas. Aku hanya mengangguk tanda setuju dengan kasepakatan yang telah kita buat.

Ku terima HP Kak Dimas dan langsung kubawa ke dalam ke kamar lalu kukunci rapat – rapat pintu kamarku. Laras… Laras… Laras… Sepanjang INBOX Kak Dimas hanya berisi Pesan Pendek dari Laras. Mungkin benar Kak Dimas menyimpan perasaan suka pada Laras. Tapi biarkan saja dulu, Kak Dimas masih butuh waktu berpikir untuk meyakinkan perasaannya pada Laras. Apakah benar dia benar benar menyayangi Laras. Lagu Tuhan Tolongnya Derby Romero pun terdengar sebagai Message Tone HPnya Kak Dimas. Aku kan sudah dididik sejak kecil untuk menghormati privasi orang lain. Jadi aku tidak membaca SMS untuk Kak Dimas itu, langsung kuberikan HP Kak Dimas pada sang empunya.” Nih Kak, Derbinya nyanyi ni. Belum aku baca kok.” Kataku.” Iya makasih, siniin HPku.” Kata Kak Dimas. Aku tebak pasti Pesan Pendek dari Laras. Tapi ya udahlah aku gak usah terlalu mencampuri urusan privasi mereka. Toh aku juga udah tau kalau Laras memang gadis yang cocok untuk Kakak sebaik Kak Dimas.

*********************************************************************

KAKAKKU CINTA SAHABATKU

“ Dek, ada yang mau aku tanyain nih, boleh gak?” Tanya Kak Dimas padaku.”Masa’ kakaknya sendiri Tanya sesuatu gak dijawab. Mank mau tanya apa sih Kak? Tentang Laras ya, jujurlah padaku..jujurlah padaku..kau menyimpan rasa…kau menyimpan rasa..cinta..” Tanyaku genit ala Widi Vierra band pada Kak Dimas.” Gimana ya? Sebenarnya…se…” Jawab Kak Dimas yang terhenti karena celetukanku,” Kak, aku ini kan adikmu. Kakak cerita aja deh. Aku janji gak bakal cerita ke siapa pun. Kakak bisa percaya sama aku kan?” Akhirnya Kak Dimas cerita juga,” Ran, Laras itu anaknya gimana? Sukanya ma apa?”” Hmmm….Laras itu anaknya cantik, baik, care, dewasa, de el el. Aku pengen kakak cari tahu yang laen sendiri. Kalo kesukaannya, aku kasih tahu satu hal kalo Laras itu sama kaya’ kakak.” Lalu beranjak pergi dari sofa tanpa penjelasan.” Ran, aku gak ngerti apa maksud kamu…jangan bikin kakak bingung.” Teriak Kak Dimas. Namun aku tetap melenggang pergi berharap Kak Dimas mengerti apa maksud perkataanku.

Semalaman Kak Dimas memikirkan perkataanku tadi malam. Kak Dimas pun memutuskan untuk mengajak Laras untuk Hangout hari ini,” Ras, mau gak hangout ma aku, temenin aku cari buku buat landasan teori KIRku, gimana? Kalau mau aku jemput jam 9.” Pesan pendek ini terkirim ke HP Laras. Derby teriak minta tolong ke Tuhan.” Ide bagus tuh Kak, sekalian aku mau cari novel dan komik ni.” Satu jam Kak Dimas siap – siap demi demi jalan sama Laras. Aku yang penasaran kenapa Kak Dimas pagi – pagi gini udah rapi banget, rambutnya klimis kena minyak rambut, dan badannya wangi banget dengan minyak khas Eropanya. Aku bertanya,” Mau kemana Kak? Pagi – pagi udah rapi banget aku ikut donk?” Spontan Kak Dimas menjawab, Gak boleh, titik. Ntar aku beliin coklat deh, ya adikku?” Pake elus – elus rambutku lagi, emangnya aku ini kucing kesayangannya apa. Tiba – tiba aku keceplosan,” Mau mingguan sama Laras ya?” Kaka Dimas hanya menjawab dengan senyum khas kasmarannya nyamber roti di meja makan. Habis itu dia nyalain motor sportnya dan tancap gas.

“Pagi tante, Larasnya ada?” Tanya Kak Dimas pada Mamanya Laras.” Oya silakan masuk, kamu temannya Laras ya? Tapi tante kok belum pernah lihat?” Tanya Mamanya Laras.” Saya Dimas tante, kakak kelas Laras. Mau mengajak Laras untuk mencari buku buat landasan teori Karya Ilmiah saya.” Jawab Kak Dimas.” O… Jadi kamu termasuk anak yang cukup pintar ya? Kalau orang tuanya?” Tanya Mamanya Laras lagi.” Ah tidak juga Tante, Papa saya adalah direktur perusahan yang dikelola sendiri oleh keluarga yang sekarang diambil alih oleh Mama saya, Karena Papa saya meninggal sebulan yang lalu.” Terang Kak Dimas atas semua Tanya Mamanya Laras.” Ayo Kak, udah siang nih. Mama, Laras ma Kak Dimas berangkat ya?” Laras meminta ijin pada Mamanya sambil mencium tangan Mamanya.” Iya, nak Dimas Tante titip Laras ya?” Pinta Mamanya Laras pada Kak Dimas.” Baik Tante, terimakasih sudah memberi ijin. Assalamu’alaikum.” Jawab Kak Dimas sambil meminta ijin untuk pergi dengan Laras.

Kak Dimas dan Laras udah lama banget muter – muter di toko buku. Semua buku, novel, dan komik yang mereka butuhkan juga sudah mereka dapatkan. Dan semua itu membuat mereka lapar. Akhirnya mereka memutuskan untuk makan siang dulu.” Mbak, dua nasi goreng seafood dan dua cappuccino hangat ya?” Pesan Kak Dimas pada seorang waitress resto.” Lho Kak Dimas kok tahu kalau aku suka banget sama nasi goreng seafood an cappuccino hangat?” Tanya Laras heran.” O ya? Kamu juga suka? Aku beneran gak tahu kalau kamu juga suka karena ini itu makanan favoritku sama Kiran.” Jawab Kak Dimas enteng. J- Rocks udah nyanyi Hanya Aku, tanda ada satu panggilan masuk di HP Kak Dimas.” Bentar ya? Aku angkat dulu?” Ijin Kak Dimas, setelah itu berdiri sejenak dari tempat duduknya dan kembali lagi ke tempat duduknya.” Itu lagu J –Rocks ya Kak? Kakak juga suka J- Rocks? Tapi kalau lagu itu aku baru denger deh. Gimana inti ceritanya Kak?” Tanya Laras penasaran.” Aku suka banget sama J – Rocks, lagu ini bercerita tentang keyakinan seorang cowok yang falling in love sama cewek, kalau hanyalah dia yang selalu untuk sang cewek. Seperti yang saat ini kurasakan.” Terang Kak Dimas pada Laras.” Bahagia banget ya jadi cewek itu?” Bisik Laras.” Apa Ras, kamu barusan bilang apa, maaf aku gak denger.” Tanya Kak Dimas.” Gak kok Kak.” Jawab Laras gugup.

Setelah makan, Kak Dimas mengajak Laras ke tempat – tempat asyik favoritnya. Aneh atau kebetulan karena semua yang disukai Kak Dimas pasti juga disukai oleh Laras. Akhirnya Kak Dimas mengantarkan Laras pulang ke rumahnya. Dan Kak Dimas pulang juga,aku yang begitu senang melihat binar wajah Kak Dimas pun langsung menyambutnya,” Darimana aja Kak? Berangkat pagi pulang sore. Aku kira mau gak pulang dan udah lupa ama adiknya?” Sambil menyodorkan dua batang coklat Kak Dimas menjawab,” Ini adikku, coklatnya. Udah ah,entar aja tanyanya, Kakak udah capek banget. Intinya hari ini Kakak seneng banget.” Tanpa penjelasan yang berarti Kak Dimas langsung naik ke kamarnya.

********************************************************************

PERMINTAAN TERAKHIR

Sepertinya Kak Dimas sudah memantapkan hati untuk memilih Laras. Buktinya sudah seminggu ini Kak Dimas mempersiapkan waktu, tempat, dan suasana yang tepat untuk menyatakan cintanya pada Laras. Hingga dipilihlah sebuah Cafe tenda kecil di Bogor saat mereka dinner adalah saat yang tepat untuk menyatakan cintanya pada Laras. Tapi ada satu hal yang ingin kutanyakan pada Kak Dimas,” Kak, apa Kakak sudah mempertimbangkan keputusan Kakak untuk menjadikan Laras sebagai pacar kakak? Tapi Kakak harus ingat satu hal, kalau Kakak berani menyatakan, kakak juga harus berani menerima jawaban Laras, baik menerima atau menolak. Lalu Kak Dimas menjawab dengan percaya dirinya,” Iya, kalau masalah itu Kakak udah tahu. Jadi tenang aja ya?” Kak Dimas menelpon Laras untuk membuat janji dinner di malam minggu besok. Dan Laras setuju, mereka bertemu disana jam 7 malam.

Sore ini Kak Dimas berdandan begitu rapi dan sudah menyiapkan semua. Kak Dimas berkata,” Adikku do’ain Aku ya? Ma, Dimas berangkat dulu ya?”” Iya, hati – hati.” Jawabku dan Mama serempak. Sekarang Kak Dimas ingin mampir dulu ke toko bucket langganan kami sebagai hadiah pelumer hati untuk Laras.Lalu melanjutkan perjalanannya ke Bogor demi menyatakan cintanya pada Laras.” Dek, tolong Mama buatkan teh sayang.” Pinta Mama padaku.” Iya Ma.” Jawabku segera membuatkan teh untuk Mama. Pyaarrr….Gelas teh untuk Mama pecah terbanting ke tanah. Maksud hati ingin membereskan tetapi malah melukai tanganku hingga berdarah. Tuhan, perasaan apa ini? Karena tiba – tiba aku teringat kepada Kak Dimas, semoga tidak terjadi apa – apa padanya. Segera kukatakan hal ini pada Mama. Dan Mama hanya tetap menenangkanku aku yakin dalam hati Mama juga cemas dengan keadaan Kak Dimas.

Tak seberapa lama berselang, Telpon rumah berdering.” Biar aku saja yang mengangkatnya Ma.” Setelah mendengar berita di telpon, rasanya aku sudah tak kuat lagi untuk memegang gagang telpon hingga terjatuh ke tanah.” Kak Dimas kecelakaan, sekarang dia ada di Rumah Sakit.” Tanpa pikir panjang aku dan Mama segera menuju Rumah Sakit untuk melihat keadaan Kak Dimas. Dan HPku bergetar ada panggilan dari Laras, lalu ku katakana bahwa Kak Dimas sekarang ada di rumah sakit karena kecelakaan saat perjalanan. Dan Laras juga akan segera menyusul kesini.” Apakah ada keluarga yang bernama Kiran? Pasien terus memanggil namanya.” Tanya seorang suster yang baru saja keluar dari IGD.” Saya Sus, Apa saya boleh masuk?”. Jawabku.” Tentu.” Jawab suster itu. Di dalam aku tak sanggup lagi membendung air mata saat kulihat Kakakku yang kucintai tergeletak bersimbah darah.” Kiran, Kakak ingin kamu menyampaikan ini.” Pinta Kakak sambil terbata – bata. ”Sudah Kak, Kakak diam saja. Kakak pasti baik – baik saja.” Jawabku.” Ini mungkin permintaan Kakak yang terakhir, tolong kamu katakan pada Laras, bahwa Kakak benar – benar mencintainya.” Pinta Kak Dimas padaku. Pandanganku terlepas dari Kak Dimas saat kulihat Laras menerobos pintu IGD. Namun terlambat, dalam sekedip mata Kak Dimas sudah dipanggil menghadap sang kuasa saat orang yang sangat dicintainya baru saja datang.” Kak Dimas, bangun Kak. Sekarang Laras ada disini Kakak bisa katakan isi hati Kakak kalau Kakak cinta pada Laras. Ayo Kak, bangun katakan pada Laras. Lalu Laras memelukku, menghapus peluhku, dan berkata,” Udah Ran, kamu harus tahu gak hanya kamu yang kehilangan Kak Dimas. Tapi aku juga merasakan kehilangan yang begitu besar karena Kak Dimas dalah cinta pertamaku.” Akhirnya aku, Mama, dan Laras pun hanya bisa meratapi kepergian Kak Dimas di Ruang IGD.

Ketika aku, Mama, dan Laras sampai di rumahku, begitu banyak orang berpakaian hitam tanda atmosfer kedukaann yang begitu tebal menyelimuti hati kami. Aku tak tahu saat aku sampai di rumah, air mataku sudah tak menetes sama sekali. Mungkin karena dalam hatiku tertanam keyakinan dan dendam yang besar, aku yakin Kak Dimas meninggal bukan karena kecelakaan tunggal. Kak Dimas bukanlah orang yang ceroboh, tapi siapa yang tega melakukan ini pada Kak Dimas? Karena Kak Dimas adalah orang yang begitu baik. Hingga acara pemakaman selesai aku tetap tabah menghadapi kehilangan orang yang kusayangi untuk ke dua kalinya. Dengan sejuta Tanya yang terus saja terbayang – baying di benakku.

Hanya 3 hari aku tidak bersekolah, dan hari ini aku memulai hariku di sekolah. Laras yang heran padaku pun bertanya,” Kiran, kamu kok udah sekolah? Aku yakin sekolah pasti ngerti kok kalau kamu masih buutuh waktu untuk nenangin diri.” Namunku hanya menjawabnya dengan tenang,” Udara rumah yang kurang berwarna tanpa kehadiran Papa dan Kak Dimas membuatku bosan. Jadi aku lebih memilih untuk bersekolah sambil melupakan semua duka di hatiku.”” Ya udah, gak apa – apa, intinya kamu udah tenang aja kok.” Tanya Laras sekali lagi untuk meyakinkanku. A nod sudah cukup bagiku uktuk menjawab pertanyaan Laras. Dan kita mulai hari ini dengan indah.” Hei, ada yang aneh ya sama Kiran. Sejak itu dia sering murung, marah tak jelas, lalu sulit sekali mengontrol emosinya ya?” Bisik teman sekelasnya yang sedang ngerumpi di bilik kantin. Namun aku yang mendengar pembicaraan mereka pun langsung mendekati mereka dan menyemprot BIGOS sekolah itu,” Hei apa yang kalian bicarain, terserah donk , hidup – hidup aku ngapain kalian yang repot? Aku mau marah kek, aku mau jungkir balik kek, yang penting aku tetap bisa mempertahankan prestasiku. Daripada kalian Cuma bisa membicarakan orang lain tanpa look at the mirror!” Laras pun segera menenangkanku dan menarikku dari kerumunan itu sebelum ada pertengkaran hebat yang terjadi.” Ras, sadarin tuh temenmu dia tetep butuh orang laen. Dasar anak udah buta.” Teriak salah satu orang dari kerumunan itu.

Dua bulan berlalu, aku rasa hidupku terus berjalan tanpa dapat kunikmati. Aku rasa aku bisa hidup sendiri, hanya ada Laras di sampingku. Akulah Kiran yang baru, pemurung, pemarah, namun tetap berprestasi. Mungkin hanya itu yang bisa dibangggakan dari Kiran yang sekarang.Sesosok pria berjalan di depan mataku, namun seolah kini aku sudah mati rasa dengan para pria. Lalu mengulurkan tangannya padaku,” Aku Ruli, aku anak baru yang duduk di bangku kelas XI IPA 2, mohon bantuannya ya?” Laras pun dengan baik memperkenalkan diri. Namun saat tiba giliranku dengan enteng aku meninggalkannya tanpa rasa bersalah. Kemudian Laras dengan segera mengejarku dan berbicara padaku,” Kamu bukan Kiran yang aku kenal. Kiran yang cerdas, ceria, suka bantu orang laen. Mungkin aku sekarang percaya kata anak – anak itu, kalau kamu itu sudah buta karena kehilangan kakakmu. Dan satu hal yang harus kamu tahu Kakakmu pasti marah besar melihatmu seperti ini. Persetan, aku mau lihat kamu berubah. Jangan temui aku sebelum kamu bisa koreksi diri sendiri.” Lalu Laras beranjak meninggalkanku dan segera berlalu.

Sungguh semua hal telah hilang dari genggamanku, namun masihkah Tuhan membiarkan Laras juga meninggalkanku? Sejenak kupertanyakan keadilan Tuhan padaku?

KAKAK BARU UNTUKKKU

Kakak kelas yang baru itu menghampiri Laras dan mulai mengajaknya bicara,” Hai Laras kan?”” Benar Kak, o ya maafkan temenku tadi ya Kak, namanya Kiran. Sebenernya dia anak yang baek kok Cuma karena sesuatu dia jadi begini.” Kata Laras pada Kak Ruli.” Gak papa, namanya juga anak yang emosinya masih labil. Mank dia selalu begitu sama semua orang?” Tanya Kak Ruli lagi.” Dulu dia bintang di sekolah ini,kini pun masih begitu. Hanya saja bedanya kini dia menjadi pemurung dan pemarah. Dia tidak melakukannya padaku saja Kak. Lama – lama aku jadi serba salah, kalau tidak segera ku katakan malah akan selamanya begini. Tapi dia tetap menjadi Kiran yang bertanggung jawab pada semua kewajibannya, contohnya di OSIS Kak.” Terang Laras panjang lebar. Tak ada satu kata atau komentar yang keluar dari mulut Ruli, dan ia berpamitan untuk beranjak meninggalkan Laras.

“Kiran ya?” Tanya Ruli padaku.“Tahu darimana kamu? Pasti dari Laras, dasar sahabat yang gak setia!” Semprotku. “Maaf ya, jangan salahkan Laras sebenarnya aku tahu dari teman – temanku yang sering membicarakan bintang yang tetap bersinar , walau sinarnya tak lagi menyilaukan, Kiran?” Aku lalu terdiam dan terpaku mendengar perkataan kakak kelasku itu. “Mau ke kantin? Sebuah kehormatan bisa minum dengan bintang sepertimu?” Ajak Ruli.” Jangan lupa satu lagi, yang sinarnya tak lagi menyilaukan.”

“Cappucinonya dua Bu!” Teriak Ruli pada penjaga kantin. Sejenak aku berpikir, darimana dia tahu kalau aku menyukai cappuccino? Apakah Laras yang memberitahukannya? Karena begitu banyak pertanyaan di benakku, akhirnya ku tanyakan saja pada Kak Ruli,” Kak, kenapa pesennya kok cappuccino? Kan masih banyak yang laen?” Dengan tenang Ruli menjawab,’ Lho memangnya kenapa? Kamu gak suka to? Ya kamu batalin aja pesenannya, kalau aku tetep pesen cappuccino ya?”’ Gak kok Kak, mank napa Kakak suka cappuccino? Bukan karena Laras kan?” Tanyaku lagi. “ Laras? Lho kok bisa? Enggak lagi, aku suka cappuccino itu dah dari dulu. Aku rasa semua orang pasti suka cappuccino karena ini bisa buat kita rilex.” Jawab Ruli. Ya ampun jawaban Kak Ruli sama dengan jawaban Kak Dimas,” Kak, aku pergi dulu ya, minumnya kita terusin aja kapan – kapan” pamitku mengakhiri dan segera ku berlari.” Dasar anak aneh, diajak minum kopi sama kakak kelas yang ganteng malah di tinggal lari.” Suara seorang cewek dari belakang. Namun Ruli tak mendengarkan suara itu, dan mengejar Kiran. Tetapi ia tak menemukan Kiran.

Selama pelajaran Kiran hanya cemberut hingga pelajaran selesai. Laras yang menyadari hal tersebut memuutuskan untuk bermain ke rumah Kiran.” Tante, Kirannya ada? Boleh saya masuk?” Izin Laras kepada Mama Kiran.”Tentu, masuk saja, Kirannya ada di balkon atas. Gak tahu dari pulang sekolah kok cemberut aja tuh.” Jawab Mama Kiran. Segera Laras menyusul Kiran ke kamarnya, tanpa permisi Laras pun langsung menuju balkon kamar Kiran. Laras menemukan sahabatnya sedang menangis di balkon kamarnya, Laras yang khawatir akan apa yang terjadi bila Kiran tetap berada disana pun langsung menghampiri Kiran,” Kiran kamu kenapa? Kamu bisa ceriata ke aku kan?” Aku yang terkejut melihat kedatangan Laras langsung menghapus air mataku dan bertanya,” Lho, sejak kapan kamu ada disini? Gak apa kok, aku Cuma merasa kenapa Tuhan kok gak adil sama aku ya? Begitu mudah dan cepatnya dia mengambil orang – orang yang aku sayangi, Papa, Kak Dimas, dan sekarang kamu?”” Aku gak akan tinggalin kamu kok Ran, kamu sahabat terbaikku, Cuma aku pengen kamu perbaiki sikap kamu ke orang lain, dan bikin orang yang kamu sayangi merasa bangga sama kamu ya? Udah kamu gak usah nangis lagi ya? Aku janji aku pasti ada di dekatmu kapan pun kamu butuh Ran.” Jawab Laras.”Janji ya Ras? Kamu gak kasih tahu tentang cappuccino ke Kak Ruli kan?” Tanyaku pada Laras.” Enggak tuh Ran, aku gak bilang apa – apa tentang kamu kok Ran, tenang aja.Emangnya kenapa sih? Kok kamu Tanya gitu?” Laras balik bertanya.” Aku gak tahu, darimana dia tahu tentang cappuccino, waktu aku Tanya, jawabannya itu sama dengan jawaban Kak Dimas, mirip banget. Pokoknya dia beber – bener mirip dengan Kak Dimas. Ini bener – bener buat aku sedih, kenapa di saat aku berusaha melupakan Kak Dimas, Kak Ruli datang.”

“Satu hal yang harus kamu ingat Ran, Kak Dimas gak akan bisa kamu lupain. Walau raganya tlah tiada, kalian terpisah jarak dan waktu.Tapi kini dia hanya hidup dalam hati kamu dan hatiku. Kalau masalah kemiripannya dengan Kak Ruli, aku rasa itu baik buat kamu. Kamu bisa dapatkan pengganti Kak Dimas untuk menggantikannya. Tapi kamu jangan terlalu berharap.” Laras menenangakanku.” Mungkin Allah mendengar do’a kamu dan membalasnya dengan cara ini walau masih sedikit sulit kamu mengerti. Udah be positive aja ya?” Tambah Laras. Aku hanya mengangguk dan mencoba memikirkan apa yang telah dikatakan oleh Laras. Karena sudah cukup sore, Aku pun mengantarkan Laras ke beranda rumah untuk mengambil mobilnya.

Keesokan harinya Kak Ruli menghampiriku,” Kiran, kemarin kenapa kamu pergi begitu aja? Apa ada masalah?” Tanya Kak Ruli.” Gak ada kok Kak, kemarin aku Cuma buru – buru aja lupa kan ada ulangan” Jawabku sambil tersenyum padanya. Akhirnya kami berbicara panjang lebar dan bertukar nomor telepon. Tapi semakin lama ku mengenal Kak Ruli, semakin banyak hal yang mirip dengan Kak Dimas. Hingga suatu hari aku menangis saat melihat Kak Ruli, karena aku takut aku hanya mencari sosok Kak Dimas dalam diri Kak Ruli. Kak Ruli yang melihat aku menangis segera menghampiriku dan bertanya,” Kenapa kamu menangis Kiran? Apa ada yang mengganggumu? Katakan padaku?” Namun rasanya mulutku sudah terkunci oleh perasaanku yang selalu berharap Kak Ruli adalah Kak Dimas. Namun itu tak mungkin terjadi karena mereka adalah orang yang berbeda. “Kamu memang gadis yang baik Kiran, selalu ingin menyelesaikan semuanya sendirian. Aku mau kamu tahu ada aku disini. Anggap aku kakakmu, yang selalu ada saat kamu butuh bagaimana?” Tanya Kak Dimas. Aku hanya bisa mengangguk dan meluapkan kegembiraanku lewat tangisan.

***********************************************************************

PERTENGKARAN HEBAT

Semakin hari kami semakin lengket seperti kakak dan adik yang sebenarnya. Suatu hari aku bertanya pada Kak Ruli,” Kakak sudah penya cewek? Aku gak percaya kalau belum punya, aku mau Kakak kenalin aku sama dia ya? Dia itu kayak apa sih Kak?”” Ya, udah punya donk, namanya Zahra dia beda sekolah sama kita. Pokoknya dia itu cantik, pinter, dan lembut banget. Kebetulan malam minggu besok aku mau ketemuan sama dia kamu mau ikut?” Ajak Kak Ruli.” Mau Kak,” jawabku begitu antusias.

Akhirnya hari itu pun datang, aku bertemu dengan Kak Zahra pacarnya Kak Ruli. Dia memang cantik dan begitu sopan, sangat pantas untuk Kak Ruli yang baik. Begitulah pertemuanku dengan Kak Zahra yang begitu mengesankan untuk mengenal gadis sepertinya. Setiap hari ku habiskan untuk belajar dan sekedar SMS an dengan Laras, Kak Ruli, juga Kak Zahra. Aku senang sekali, Kak Zahra juga bisa mengerti kehadiranku di kehidupan Kak Ruli sebagai adiknya. Dan Kak Zahra juga menyayangiku seperti Kak Ruli menyayangiku.

Aku sedikit merasakan keganjilan dengan Kak Ruli. Aku merasa ada yang berubah darinya. Aku yang sama sekali tak mengerti dengan apa yang sebenarnya terjadi pada Kak Ruli pun menanyakan in pada Kak Zahra. Tapi Kak Zahra menjawab ia tak merasa ada yang aneh dengan Kak Ruli dan Kak Ruli juga tak menceritakan apa pun padanya. Tapi ia berjanji untuk mencari tahu tentang ini kepadaku. Aku pun tak mempunyai keberanian untuk bertanya langsung pada Kak Ruli tentang sebab ia menjadi berubah seperti ini. Aku hanya bisa meluapkan kesedihanku pada Laras.” Kiran, udah deh kamu gak boleh nangis lagi. Dia kan Cuma nganggep kamu seperti adiknya bukan berarti dia gak boleh berubah kan? Itu hak dia Kiran, sekarang yang harus kamu pikirkan itu gimana cara menunjukkan ke dia kalau kamu bisa tanpa dia. Bukannya dulu aku udah bilang ke kamu jangan terlalu berharap dia bisa jadi seperti apa yang kamu mau.” Kata Laras.”Aku ngerti tentang itu Ras, tapi ia datang di saat yang tepat. Dia bisa menjadi motivasi yang baik dan juga jadi kakak yang baik buat aku. Tapi kenapa begitu ncepat juga sikapnya berubah padaku? Apakah Tuhan selalu mengambil orang – orang yang aku sayangi?” Jawabku.” Tapi aku yakin kamu bisa ngelewatin ini dan semua ini pasti ada hikmahnya kok.” Kata Laras sambil menepuk bahuku.

Sudah tiga hari Kak Ruli tak bicara padaku, sikapnya begitu dingin padaku. Dan tak ada perkembangan informasi dari Kak Zahra. Akhirnya ku beranikan diri untuk menanyakannya langsung pada Kak Ruli hanya saja melalui telpon.”Assalamu’alaikum Kak, ni Kiran Kakak punya waktu buat bicara sama Kiran gak?” Tanyaku.”Ada, ada pa Ran, tumben kamu telpon?” Kak Ruli balik bertanya.’ Gini Kak aku beranikan diri buat Tanya ini ke Kakak maaf aku gak berani bilang langsung ke Kakak, karena menatap mata Kakak yang kosong padaku itu adalah hal yang paling menakutkan buatku. Sebenarnya apa salahku sama Kakak? Kalau aku punya banyak kesalahan bicarakan padaku Kak, jangan diamkan aku seperti ini. Apa Kakak gak tahu ini lebih menyakitkan.” Jelas ku atas semua Tanya yang ada di benakku walau penuh dengan tetes air mata, karena aku takut untuk kehilangan Kakakku untuk yang kedua kalinya cukup Kak Dimas yang tinggalin aku.”Kiran, aku minta kamu mengerti. Kamu boleh nganggep aku seperti kakakmu sendiri, tapi kamu harus inget aku punya Zahra. Aku gak mau gara – gara kamu dia jadi terluka.” Jawab Kak Ruli.” Tapi Kak kasih aku kesempatan satu kali lagi akan ku perbaiki semuanya dan aku akan kinta maaf ke Kak Zahra kalau aku udah nyakitin hatinya.” Pintaku pada Kak Ruli.” Maaf Ran, kamu harus introspeksi diri dulu itu pun demi diri kamu sendiri, Assalamu’alaikuam.” Kak Ruli mengakhiri pembicaraan.

************************************************************

SIAPA KAK RULI YANG SEBENARNYA?

Semenjak itu aku menjadi Kiran yang benar – benar menjengkelkan, begitu mudah tersinggung dan sangat acuh kepada orang lain.

Dulu ia ada di hatiku

Selamanya pun akan selalu begitu

Walau kini kami terpisah jarak dan waktu

Kau ka tersimpan di hatiku

Saat ku bersusah payah melupakanmu

Kau datang di saat yang tepat

Walau tak serupa

Tapi ku merasa ada yang sama

Ada cinta di hati kita

Aku tahu tak kan bisa selamanya

Karna kau hanya miliknya

Dan sungguh aku tak mrebutmu darinya

Karena ku hanya seorang bayangan maya di hidupmu

Yang semakin pudar…

Inilah puisi yang ku buat saat aku bertengkar dengan Kak Ruli karena ia sudah ku anggap seperti kakakku sendiri. Tapi ia hanya menganggapku sebagai bayangan maya di hidupnya.yangan maya di hidupmu

an waktu.

Lalu aku teringat harus meminta maaf kepada Kak Zahra karena aku telah menyakiti hatinya. Ku putuskan untuk ke sekolah Kak Zahra.” Kak Zahra, sini.’ Teriakku sambil melambaikan tanganku pada Kak Zahra.”Lho Kiran kok ada disini? Kamu bolos sekolah ya? Ntar Kak Ruli marah lho kalau tahu kamu bolos sekolah?” Tanya Kak Zahra padaku.” Enggak kok Kak,toh kalau Kak Zahra bilang ke Kak Ruli dia juga gak bakal peduli lagi kok sama aku. Kebetulan sekolah lagi ada rapat jadi aku mau main kesini buat bicara sama Kak Zahra. Bisa kita bicara? Tapi jangan disini ya Kak?” Ajakku. Kak Zahra hanya mengangguk. Akhhirnya kita ke cafĂ© langganan aku, Kak Ruli, dan Kak Zahra.

“Kiran ada apa sih? Kok kayaknya penting banget? Kamu aja sampai nyamperin ke sekolah?” Tanya Kak Zahra penasaran. “ Kiran minta maaf sama Kakak kalau selama ini Kiran sering menyakiti hati Kak Zahra. Tolong maafin Kiran ya Kak?” Pintaku pada Kak Zahra karena begitu takutnya aku pada Kak Zahra dan Kak Ruli hingga tubuhku gemetaran dan tak kuasa menahan air mata. Sebenarnya ada apa Kiran? Kamu ceriata aja sama Kakak, jangan buat Kakak semakin bingung?” Tanya Kak Zahra lagi.” Kakak tahu kan, aku sudah menganggap Kak Ruli seperti Kakakku sendiri dan aku sangat takut kehilanganya. Tapi menurutnya kehadiranku telah mengusik hati Kak Zahra. Jadi aku minta maaf ya Kak jika aku telah mengganggu hubungan Kakak? Kak Ruli sangat mencintai Kak Zahra jadi aku gak mau menjadi penghancur hubungan kalian.” Jawabku sambil tersedu – sedu.” Aku tahu soal itu Kiran, dan aku mengerti bagaimana perasaan kamu dan perasaan Kak Ruli. Jujur aku juga sedikit khawatir karena ada temanku yang bilang kalau kamu suka sama Kak Ruli, apa itu benar?” Tanya Kak Zahra lagi.” Itu gak bener Kak, Kakak harus percaya sama aku. Aku suka sama Kak Ruli sebagai Kakakku gak lebih. Dan hanya Kak Zahralah orang yang pantas untuk Kak Ruli. Jadi Kiran minta maaf jika sudah jadi pengganggu di hubungan kakak. Dan satu lagi jangan pernah bilang pada Kak Ruli tentang pertemuan kita ini ya Kak? Aku mohon Kak Zahra” Pintaku pada Kak Zahra.” Oke aku gak akan bilang sama Kak Ruli tapi kamu gak boleh nangis kaya’ gini. Hapus dulu air matanya.” Jawab Kak Zahra.

Hari – hari ku lalui tanpa Kak Ruli. Kami kini seperti musuh bebuyutan. Tapi jujur setelah aku berpapasan dan melihat tatapan mata yang kosong itu, membuatku takut hingga aku menangis. Di belakang Kak Ruli aku masih tetap jaga contact dengan Kak Zahra dan sering curhat padanya. Hingga Kak Zahra tahu betapa berartinya Kak Ruli untukku. Lalu Kak Zahra perlahan menyadari bahwa dirinya dan aku sama – sama memiliki tempat yang indah di hati Kak Ruli.Karena sejak kami berbicara terakhir kali juga ada sedikit perubahan pada diri Kak Ruli yang dirasakan oleh Kak Zahra.

Hari ini aku di ajak bertemu di cafĂ© biasanya oleh Kak Zahra. Dan aku datang lebih awal lalu duduk di kursi yang telah kami peasan. Aku sangat tertkejut melihat Kak Zahra yang datang bersama dengan Kak Ruli. Sungguh aku ingin menangis saat itu tapi aku harus memperlihatakan ketegaranku di depan Kak Ruli dan Kak Zahra. Lalu mereka duduk.” Zahra, kenapa kamu ajak Kiran juga tanpa memberi tahu aku?” Tanya Kak Ruli pada Kak Zahra.”Aku gak ada maksud apa – apa kok Kak, aku cuma mau buka mata kalian. Kalian itu udah dewasa, gak sepantasnya kalian jadi kaya’ gini hanya kareana aku. Aku memang kekasihmu, aku tahu itu. Tapi ada sedikit iri di hatiku karena kamu telah membagi hatimu untuk Kiran sebagai adikmu. Aku bisa mengerti itu karena kami sudah mamiliki tempat indah masing – masing di hatimu. Apa arti kalung belahan jiwa yang kalian miliki aku melihatnya saat pertama kali Kakak mengenalkanku pada Kiran. Aku sempat berpikir kenapa itu bukan untukku? Tapi kini ku tahu jawabnya Kak Ruli. Aku telah mengerti itu. Jadi bersikaplah lebih dewasa Kak, Kiran?” Kata Kak Zahra pada kami. “ Kalung Belahana Jiwa?” Tanya kami serentak.” Jadi Kakak juga mempunyai ini?” Sambil mengeluarkan milikku. Lalu Kak Ruli menunjukkan miliknya dan mengangguk.” Darimana Kakak mendapatkannya? Apa Kakak tahu seharusnya kalung itu milik siapa?” Tanyaku pada Kak Ruli sambil menunjuk kalung yang di pakai Kak Ruli.

Dengan tergagap – gagap ku ceritakan pada Kak Ruli tentang apa yang terjadi pada Kak Dimas,” Itu adalah hadiah Ulang Tahunku yang ke 16 sekaligus kado terakhir dan termanis yang diberikan oleh Kak Dimas. Apa Kakak tahu siapa Kak Dimas? Memang aku tak pernah menceritakan ini pada Kak Ruli karena aku ingin sedikit mengurangi kesedihan hati yang ku alami Kak. Itu kado terakhir yang di berikannya padaku karena tiga bulan yang lalu dia meninggal karena kecelakaan. Dan kalung itu tidak aku temukan di jasad Kak Dimas. Aku tak yakin Kak Dimas mengalami kecelakaan tunggal. Tapi kini aku tahu dimana kalung itu berada. Dia berada di leher pembunuh Kak Dimas yang sempat aku harapkan akan menjadi pengganti Kak Dimas.”

“ Maafkan aku Kiran, sungguh aku tak tahu jika kamu adalah adik dari orang yang telah aku tabrak. Dan aku benar – benar tak bermaksud menabraknya ini hanya sebuah kecelakaan.” Jelas Kak Ruli padaku.” Kak Ruli benar – benar jahat, telah membohongi aku selama ini.” Teriakku kamudian meninggalkan cafĂ© dan segera masuk mobil.” Kiran, tunggu aku mau jelaskan ini ke kamu.” Teriak Kak Ruli yang ingin mengejarku, tapi tertahan oleh tangan Kak Zahra.”Kak walau aku baru tahu soal ini, tapi biarkan Kiran menenangkan dirinya dulu, ini tak kan mudah baginya.” Kata Kak Zahra menenangkan Kak Ruli.’ Tapi, apa kamu gak lihat dia menyetir mobil dalam keadaan kalut seperti itu, itu kan bahaya? Kata Kak Ruli dengan nada tegas.” Oke kita susul Kiran, tapi Kakak harus lebih nenangin diri.” Kata Kak Zahra.

Tak lama kemudian Kiran yang menyetir mobil dengan kecepatan tinggi dan pikiran yang tak karuan tak menyadari bahwa di depannya terdapat pohon, yang akhirnya menghentikan laju mobilnya. Kak Ruli dan Kak Zahra yang melihat hal ini segera turun dari mobil dan melihat keadaan Kiran. Kiran sudah tergeletak tak berdaya bersimbah darah. Dengan segera Kak Ruli mengangkat Kiran dari mobilnya dan membawanya ke rumah sakit.

******************************************************************

PERTANGGUNG JAWABAN YANG INDAH

” Ini semua gara – gara aku Zahra.” Sesal Kak Ruli.” Bukan Kak, ini bukan salah siapa pun. Hanya keadaan yang mengaharuskan kalian jadi begini.” Kata Zahra yang mencoba menenangkan Kak Ruli.”Ruli, Kiran mana Nak?” Tanya Mama Kiran.” Masih ada di IGD Tante.” Jawab Kak Ruli. Kemudian Dokter pun keluar dan bertanya,” Mana keluarga dari pasien Kiran?” Kami Dokter, bagaimana keadaan Kiran? Dia baik – baik saja kan Dokter?’ Tanya Mama Kiran.”Maaf Bu, sekarang pasien Kiran sedang melalui masa kritis dan sedang koma, do’a keluarga akan sangat membantu untuk kesembuhan pasien. Tapi keluarga sudah diperbolehkan untuk melihat pasien tapi jangan di ajak berbicara yang berat – berat dulu.” Jelas Dokter.

Segera kami masuk ke IGD dan melihat keadaan Kiran, yang tak henti – hentinya menyebut “ Kak Dimas”. Membuat semua orang yang ada di ruangan itu tak kuasa menahan air mata. Laras yang baru saja datang pun tak kuasa melihat sahabatnya yang koma dan terus memanggil nama Kakaknya yang sudah meninggal.

Sudah 3 hari aku dalam keadaan koma.Aku benar – benar tak tahu sebenarnya aku berada dimana? Aku melihat sebuah tempat yang begitu indah dan melihat Kak Dimas. Ia pun menghampiriku. Aku yang begitu gembira segera mameluknya dan berkata, aku kangen banget sama Kakak. Dan aku sudah mengetahui siapa yang telah membunuh Kakak. Aku berjanji untuk membalasnya.” Dengan tersenyum Kak Dimas berkata,” Adikku yang tersayang aku pun sangat rindu padamu. Tapi kamu tak boleh menuntut balas atas kematian kakak. Karena ini hanya kecelakaan Ruli tak sengaja menabrak Kakak, sayang. Tapi apa kamu tidak berpikir, mungkin ini jalan yang diberikan oleh Tuhan atas semua do’a kamu. Ia mengembalikan Kakakmu walau dengan cara yang berbeda. Ingat Kakak kan pernah bilang Liontin ini yang akan selalu membawa kamu dekat pada Kakak Kan?” Jasadku meneteskan air mata mendengar apa yang di katakan oleh Kak Dimas tadi. Walau aku tak tahu apakah itu kenyataan?’Sekarang kamu pulang ya?” Suruh Kak Dimas sambil melambaikan tangan dan perlahan menghilang dari pandanganku. Perlahan – lahan mataku terbuka dan ku lihat Mama, Laras, Kak Ruli dan Kak Zahra.’ Kenapa kamu disini pembunuh?” Tanyaku sambil sedikit ketakutan.’Siapa Kiran yang kamu maksud? Tanya Mama sambil memelukku.” Yang dimaksud Kiran adalah saya Tante. Maafkan saya Tante yang telah menjadi pengecut karena tidak mau bertanggung jawab atas apa yang telaha saya lakukan. Saya telah menabrak anak kebanggaan Tante. Sungguh saya tidak tahu bahwa yang saya tabrak adalah Dimas anak Tante dan Kakak dari Kiran. Tapi saya sekarang mau bertanggung jawab Tante.” Jawab Kak Ruli.

Mama yang mendengar pengakuan Kak Ruli pun tak kuasa menahan air mata.” Lalu kamu mau bertanggung jawab bagaimana? Kak Dimas sudah gak ada Kak? Tangisku meminta pertanggung jawaban Kak Ruli. Lalu Kak Zahra mendekatiku dan duduk di sampingku.” Kiran, bagaimana pun pertanggung jawaban yang diberikana Kak Ruli tak kan pernah membuat Kak Dimasmu hidup kembali. Pertanggung jawaban yang terbaik adalah Kak Ruli akan menggantikan tempat Kak Dimasmu itu di hatimu. Aku ikhlas karena kalian memang pantas mendapatkan ini.” Kata Kak Zahra.”Kiran mau Kak Ruli bertanggung jawab dengan mulai saat ini Kak Ruli dan Kak Zahra menjadi Kakak Kiran, Kiran sayang sama kalian jangan pernah tinggalin Kiran ya?Pintaku sambil membuka tanganku. Agar bisa memeluk Kak Ruli dan Kak Zahra. Aku memeluk Kak Ruli dan Kak Zahra sangat erat seakan aku sudah tak mau kehilangan mereka lagi. Mulai hari ini kami membuka lembar cerita yang baru.

Hari ini aku keluar dari rumah sakit, dan begitu bahagianya melihat Kak Ruli dan Kak Zahra yang membopongku. Hari – hariku kini selalu ku habiskan dengan orang – orang yang aku sayangi juga Kakakku Kak Ruli dan Kak Zahra. Aku yakin Kak Dimas pasti tersenyum bangga padaku saat ini.Dan aku menyadari sesuatu, bahwa semuanya tak ada yang abadi. Semua pasti kembali kepada sang pencipta. Tetapi ingat siapa pun dia akan selalu hidup dalam hati kita. Dan jika kita yakin akan sesuatu yang pergi suatu saat ia akan kembali.Inilah Realita pergi dan kembali. Yang tak kan pernah kita ketahui sebelum kita alami.

TAMAT

Rabu, 10 Februari 2010

tentang

Gunung tersebut dinamakan “Olympus Mons” dan berupa gunung yang tidak aktif. Tingginya 15.5 mil dengan diameter 372 mil. Sebagai perbandingan, tinggi Gunung Everest sekitar 5 mil. Planet Mars juga memiliki jurang terbesar di sistem tata surya kita yang disebut “Valles Marineris” dengan panjang 2500 mil dan kedalaman 4 mil.

CERPEN ANDALAN PENYABET JUARA III BULAN BAHASA KABUPATEN KEDIRI

MERENDA KASIH

By: Indira Dewi Kirana XI IPA 2

“Mitosis adalah cara pembelahan sel yang menghasilkan dua sel Haploid.” Terang Bu Khod saat menjelaskan pelajaran yang sedikit mengganjal pikiran murid – muridnya untuk dapat memahami. Hingga hari kelulusan pun tiba. Lalu Penerimaan Siswa Baru pun digelar.

Seorang gadis yang akrab dipanggil Karin ikut dalam euphoria yang namanya PSB atau Penerimaan Siswa Baru. Walaupun itu bukan keinginannya. Akhirnya dia bersekolah di Madrasah Aliyah, itu pun karena tekanan dari ayah tirinya. Memang ia termasuk perempuan yang tidak semestinya, dia suka ngedance dan ngeband sama teman – temannya, yang menurut orang tuanya lebih banyak mudhorotnya daripada manfaatnya. Sekilas kehidupannya terlihat sangat glamour, dibuai dengan fasilitas – fasilitas yang mewah, seperti Kendaraan pribadi, laptop, Blackberry dan masih banyak yang lainnya.

Ini hari pertama ia masuk Sekolah yang dianggapnya seperti penjara. Dia benar – benar terkekang, tubuh indahnya yang biasanya terbalut aneka busana yang ngetrend sekarang terlilit jilbab dan longdress. Dia juga tak bisa ngedance dan ngeband seperti dulu. Kini ia dijejali dengan Rebana yang sungguh memekakkan telinganya, hingga terbesit di pikirannnya untuk mengadakan agresi di sekolahnya agar orang tuanya memindahkannya dari sekolah yang bak penjara baginya.

Mulai berulah dari membuat heboh di kelas, merokok, dan juga berani berkencan dengan cowoknya di sekolahan.

“Ya Ampun, Apa yang kamu lakukan? Teriak Bu Khod histeris membuang puntung rokok yang berada di antara jari – jari Karin.“Apa kamu tidak tahu peraturan di Madrasah ini kalau telah diharamkan merokok dan pacaran di sekolahan.” Hardik Bu Khod pada dua sejoli itu. “Aduh, ibu jangan kolot deh. Ini namanya gaul Bu? Kita hidup di zaman modern.” Jawab Karin enteng sambil menyemburkan asap rokok ke depan muka Bu Khodijah. “Kamu benar – benar keterlaluan! Ayo ikut Ibu ke Kantor Kepala Madrasah.” Paksa Bu Khod

“Siswa baru? Belum tahu peraturan di Madrasah ini? Itu bukanlah alas an karena peraturan telah disosialisasikan dan saya bukanlah orang yang gampang mentolerir pelanggaran kategori berat. Jangan mentang – mentang ayah kamu donatur terbesar di Madrasah ini. Kamu berikan surat panggilan orang tua ini kepada orang tua kamu. Saya tunggu besok pagi dan kamu saya skors selama tiga hari sambil renungkan apa yang telah kamu lakukan.” Semprot sang Kepala Madrasah yang terkenal tegas. Tanpa rasa bersalah, Karin melangkah keluar dari Kantor Kepala Madrasah lalu mengacung – acungkan surat panggilan orang tuanya.

Tak ada penjelasan yang keluar dari mulutnya. Ia hanya menggeletakkan surat panggilan orang tua itu di atas meja kerja Ayah tirinya. Saat ditanya, dia terus melenggang menuju kamarnya dan segera menguncinya.

“Kak, waktunya makan malam. Ayo! Semua sudah menunggu di bawah,” ajak Mamanya sambil mengetuk pintu kamar Karin.

“ Karin nggak lapar Ma. Ntar kalo Karin lapar kan bisa makan sendiri,” sahut Karin dari dalam kamar.

Esok harinya Mama dan Ayahnya memenuhi panggilan Kepala Madrasah. Kepala Madrasah pun menceritakan semua ulah yang telah dibuat anak mereka hingga di skors tiga hari. Mereka pun pulang dengan perasaan marah.

” Karin! Apa kamu memang sengaja membuat Ayah malu. Ayah kira dengan menyekolahkan kamu di Madrasah akan membuat kelakuan kamu itu berubah. Ternyata, ini malah membuat kamu semakin menjadi. Apa yang sebenarnya kamu inginkan? Tanya Ayah tirinya.

“Ayah Tanya apa mauku? Aku mau bebas. Tak ada kekangan seperti di Sekolah Penjara itu.” Jawab Karin.

“Ayah kira, itu bukanlah solusi yang tepat. Sekarang pilihan ada di kamu. Berubah atau semua fasilitas Ayah tarik?” ancam Ayah tiri Karin.

“Mam, kenapa sih gak bantuin Karin. Mama udah gak sayang lagi sama Karin.” Tangis Karin. Karena tak ada jawaban dari mamanya Karin berlari menuju kamar dan menangis disana. Dalam benak ia berpikir Mamanya sudah tak memihak kepadanya lagi.

Hari ini Ulangan Biologi dari Bu Khodijah, namun sebelumnya beliau memberitahu kepada Karin untuk belajar. Ulangan berlangsung. Kelas begitu hening. Semua sibuk mengisi lembar jawaban masing – masing. Teeeeeeet…….Suara Bel tanda ganti pelajaran pun berbunyi. Semua kertas ulangan dikumpulkan. Aneh, Bu Khodijah langsung tertarik pada kertas ujian Karin dan segera mengoreksinya. Sungguh tidak bisa dipercaya, Karin mendapat nilai seratus padahal ia belajar mendadak dan tidak curang karena Bu Khodijah yakin sudah mengawasi anak – anak dengan ketat. Jadi Karin tidak mungkin bisa berbuat curang.

Penjurusan memang hal yang sangat membingungkan. Karena ini akan sangat menentukan masa depan begitu juga Karin. Sebenarnya ia ingin BadgeIPA tersemat di lengan bajunya. Namun ia khawatir itu hanya impian jika melihat kelakuannya selama ini. Hingga sebuah suara membuyarkan lamunannya. “ Karin, temui saya di kantor sepulang sekolah,” perintah Bu Khodijah. Keringat dingin Karin bercucuran saat hendak menuju kantor Bu Khod.

Ada apa Bu? Maaf saya akhir akhir merasa tidak melanggar peraturan, Bu?” Tanya Karin dengan penuh ketakutan.

” Bukan Karin, saya memanggil kamu bukan karena itu. Tapi saya ingin memberi kamu motivasi untuk memilih jurusan IPA. Karena menurut saya kamu mampu untuk mendapatkan itu. Sebenarnya minat kamu ingin masuk jurusan apa? Anggaplah saya ini adalah Ibu yang juga bisa menjadi tempat kamu berbagi.” Kata Bu Khod.

”Jujur Bu, saya tertarik ke jurusan IPA, tapi saya takut saya tidak mampu? Jawab Karin.

” Saya tahu kamu mampu, mungkin hanya ada masalah yang sebenarnya sumbernya itu dari diri kamu sendiri atau keluarga mungkin? Anggaplah saya ini tempat berkeluh kesah kamu.” bujuk Bu Khod.

Sejenak Karin terdiam namun perlahan ia berkata,” Menuruut orang lain hidup saya ini perfect, karena digelimangi fasilitas yang begitu mewah. Tapi sebenarnya saya ini adalah anak yatim sejak saya kelas tiga SD, saya kurang perhatian. Orang tua saya sibuk bekerja sedangkan ayah tiri saya terlalu otoriter. Saya berpikir bagaimana cara mendapat perhatian dari orng tua saya? Akhirnya saya putuskan untuk bandel Bu saya tahu itu salah tapi paling tidak saya mendapat perhatian dari orang tua saya.” Jawab Karin

Sejenak Bu Khod menghela napas, karena sebenarnya ada banyak potensi yang tersimpan di diri Karin yang teretutupi oleh kenakalannya. Tapi dalam hati Bu Khod yakin semua ini bisa dirubah seiring berjalannya waktu.” Menurut saya tindakan kamu itu sangat tidak arif. Pernahkah kamu berpikir jika ada cara lain untuk mendapatkan perhatian dari orang tua kamu? Dengan berprestasi misalnya, karena semua orang tua akan senang apabila anaknya bisa membuat mereka bangga. Saya amat yakin kamu mampu di jurusan IPA. Sekarang tinggal menumbuhkan minat kamu dan semangat kamu untuk belajar. Percayalah saya akan membantu kamu apabila ada kesulitan.” Bu Khod meyakinkan. “Terima kasih Bu,” Kata Karin. Dan tiba – tiba tangannya melingkar di punggung Bu Khod.” Saya belum pernah merasakan pelukan seorang ibu, mungkin seperti ini rasanya ya Bu?” Kata Karin sambil tenggelam dalam hangatnya pelukan Bu Khod yang mulai saat ini dianggapnya sebagai Ibu ke dua baginya.

Sejak saat motivasi dari Bu Khod itu Karin begitu serius belajar juga berkarya. Mulai banyak lomba yang bisa dimenangkannya walau semuanya di bidang sastra. Tapi dia tak patah arang semua kreativitasnya ia tumpahkan di dalam laptop kecilnya. Akhirnya hari penentuan Penjurusan pun tiba, “Karina Dewi”, namanya tercantum di kelas XI IPA 2. Begitu bangganya ia. Kini ia menjadi seorang gadis yang aktif baik di kelas maupun di organisasi. Sampai ia terpilih menjadi Sekretaris OSIS.

“Karin, apa Ibu bilang kamu bisa kalau ada tekad yang kuat dalam hati kamu. Ibu tahu kamu sangt tertarik pada mata pelajaran Biologi.Desember kita akan mengikuti Olimpiade Sains Nasional. Ibu harap kamu mau mengikutinya.” pinta Bu Khod.

” Iya Bu, saya akan berusaha dengan sebaik – baiknya mohon bimbingannya Bu.” Jawab Karin seraya tersenyum – senyum yang dengan tulus bagi guru tercintanya.

Semua kegiatan itu begitu menyita tenaga dan pikirannya. Mulai dari OSIS hingga bimbingan OSN. Saat itu pelajarn Biologi Bu Khod, tiba- tiba keluar darah dari hidung Karin hingga membuat Bu Khod begitu panik. Semua temannya juga segera membawa Karin ke UKS. Tapi darah yang dikeluarkan Karin sangat banyak hingga membuatnya terkulai lemas dan pingsan. Guru piket Madrasah pun melarikannya ke Rumah Sakit, dan memberi tahu orang tua Karin.

Orang tua Karin pun datang dan diminta untuk segera menemui dokter. “Apa benar anda orang tua dari pasien Karin? Mungkin ini sangat berat untuk Bapak dan Ibu terima. Kemungkinan besar ada kenker di otak Karin yang menyebabkan dia sampai mengeluarkan darh begitu banyak dari hidungnya. Untuk memastikannya kami akan mengadakan cityscan.” Kata Dokter.

Mendengar penuturan dokter Mama Karin pun menangis di pelukan Ayahnya, dan ayahnya pun berkata,” Lakukan apa pun yang tebaik bagi anak akami. Berapa pun akan kami bayar kalau perlu kami akan meminta rujukan dokter spesialis yang terbaik.” Bu Khod yang diam – diam mengikuti dari belakang pun kaget dan meneteskan air mata.

Setelah beberapa hari Karin tidak masuk sekolah, akhirnya hari ini dia masuk sekolah. Semua berjalan seperti biasa hanya sedikit ada yang berbeda yaitu stamina Karin yang begitu cepat lelah. Semua orang merindukannya karena dia adalah pribadi yang begitu menyenangkan apalagi bagi Bu Khod. Karena Karin mengetahui itu, orang yang pertama ia temui adalah Bu Khod. Karin bertanya dengan gaya cerianya yang biasanya,” Ibu kangen tidak sama saya? Kapan bimbingannya kita lanjutkan Bu?”

Dengan sedikit tergagap dan mata yang tiba – tiba memerah Bu Khod menjawab,’ Tentu Ibu kangen dengan murid Ibu yang paling bandel ini. Mungkin bimbingan kita pending dulu. Karena saya lihat keadaan fisik kamu masih belum terlalu baik.”

Apa Ibu tidak lihat saya ini sudah sehat, jadi kita lanjutkan bimbingan mulai besok ya Bu?” Jawab Karin sambil bergaya bak lahragawan.” Apa kamu yakin Rin?” Tanya Bu Khod meragu. Karin hanya mengangguk.

Tiap hari Karin begitu ceria dengan aktivitas juga bimbingnnya. Namun belakangan ia lebih sering absent karena sakit. Akhirnya teman – teman sekelasnya bersama Bu Khod menjenguk Karin di rumahnya. Karin terlihat begitu pucat dan lemas walau begitu dia mencoba tetap ceria seperti biasanya. Memang ada sesuatu yang harus disenyumbunyikan darinya yaitu tentang penyakit yang ganas yang perlahan menggerogoti tubuhnya.

“Bu tolong daftarkan saya untuk mengikuti OSN Biologi saya berjanji akan berusaha dengan sungguh - sungguh.” Pinta Karin dengan sungguh.

“Saya bisa saja mendaftarkan kamu tapi kamu harus berjanji berusaha dengan baik tapi jangan terlalu memaksakan karena kamu harus menjaga kondisi kamu, bagaimana kamu setuju?” Tanya Bu Khod. Anggukan Karin menjadi jawab atas persetujuan yang telah mereka buat.

Esok harinya Karin sudah masuk sekolah seperti biasanya dan belajar sangat keras, karena OSN tinggal satu minggu lagi. Waktu berlalu begitu cepat.Tak terasa besok adalah hari yang sangat bersejarah bagi Karin. Ditaruhnya undangan untuk menghadiri OSN di atas meja kerja ayahnya, berharap merka bisa datang untuk memberinya support walau itu termasuk hal yang mustahil.

Karin berangkat dengan Bu Khod ke balai kota untuk mengikuti OSN, Karin begitu berharap orang tuanya bisa datang namun mereka tak jua menampakkan diri.” Karin kamu harus berusaha dengan keras buktikan kamu bisa membuat orang tua kamu bangga.” Kata Bu Khod memberikan semangat. Tak selang berapa lama bel mengerjakan soal pun berbunyi, Karin harus segera masuk ruang Tes.

Bu Khod begitu inginmenyenangkan hati Karin hingga Bu Khod pun pergi menemui orang tua Karin untuk memohon waktu mereka untuk melihat Karin sebentar saja. Akhirnya Bu Khod berhasil membawa mereka ke Balai Kota tepat sesaat sebelum bel mengerjakan soal selesai. Binar mata Karin yang begitu gembira melihat orang tuanya bisa hadir dan memberikannya semangat mungkin adalah saat paling membahagiakan dalam hidupnya.

Saat yang ditunggu – tunggu pun tiba, dibacakannya hasil dari OSN Biologi tahun ini. Dari peringkat sepuluh hingga dua namanya tak sama sekali tersebut. Hal itusempat membuat Karin diliputi perasaan takut dan cemas. Namun tak dikira tak disangka” Karina Dewi” sang MC menyebut namanya sebagai juara OSN Biologi tahun ini meminta Karin juga orang tuanya untuk naik ke podium menerima trophy.

” Ini semua karena orang tua saya. Terutama Mama Karin , Karin sayang sama Mama dan Ayah.” Kata Karin saat bebbicara di depan podium. Lalu memeluk Mamanya. Namun tiba – tiba. Pyarrrr Trophy itu tebanting juga dengan tubuh Karin yang tiba – tibaterkulai tak sadarkan diri di lantai.

Karin segera dilarikan ke Rumah Sakit terdekat. Dokter pun keluar dari ruang IGD dan berkata,” Maaf kami sudah berusaha dengan keras namun kehendak Allah berkata lain. Pasien Karin tidak bisa diselamatkan. Mama, Ayah Karin, juga Bu Khod terkejut dan sangat sedih karena kehilangan anak yang begitu mereka sayangi. Sejak saat itu mereka menyadari anak tidak hanya membutuhkan materi atau pendidikan formal saja tetapi juga memerlukan kasih sayang orang tua karena keluarga adalah pendidikan yang pertama dan utama.

(TAMAT)